Photobucket

Rabu, 20 Mei 2009

Sepucuk Rinduku Padamu, Nak

Sepucuk rinduku padamu, Nak, adalah
moncong meriam yang mengarah pada diriku sendiri
Tapi, bagaimanapun kuledakkan juga
sebab pedihnya pasti merobek sombongku Mestinya aku tak di sini, menata huruf demi huruf menyusun kalimat-kalimat sunyi yang dingin dan kokoh
Bukankah celoteh, rengek, amarah dan manjamu
lebih megah dan berharga dari apapun
hingga sanggup merontokkan
pilar-pilar keangkuhan dalam diriku?
Betapa naifnya aku memilih benteng sepi ini
duduk di singgasana egoku seraya berkata,
“Lihat, Ayahmu yang mabuk dunia sedang membangun
istana buat raja yang dicintainya!”
Sementara di rumah kau menungguku
berkaca-kaca di balik kaca jendela,
Ayah kemana Bunda?”Sepucuk rinduku padamu, Nak, adalah
angin yang menampari mukaku sendiri
Tapi, Bagaimanapun kutentang jua
Sebab perihnya pasti menelanjangi jiwaku Mestinya aku di rumah bersamamu
Bermain kuda-kudaan, bola, atau melukis di satu buku
Seperti yang acap kita lakukan di sisa waktuku untukmu
Itupun mesti kita lakukan seusai perdebatan panjang kita
dii atas ranjang peristirahataanku yang biasa
kau akhiri dengan tangisan kesal atau sesalmu. Lalu
"Ayah jadi hutan, bunda jadi danau, aku jadi gunung, ya?”
katamu sambil menggerak-gerakkan tangan mungilmu
membentuk hutan, danau dan gunung
Bunda jadi air kendi, dan aku jadi tempat untukmengungsi, ya?”
“ya, Nak!” aku tersenyum sembari menghapus air mataku Sementara sepucuk rinduku padamu, Nak,
adalah bunga, adalah pelangi, adalah matahari
yang makin rindang tumbuh dalam imajinasiku
Jangan tinggalkan aku, ya, Anakku!...

terispirasi dari kutipan Puisi Suharyono/Nyata edisi iv mei 2008
Read more... Sepucuk Rinduku Padamu, Nak