Photobucket

Kamis, 27 Mei 2010

Tamu dari Negeri Kompeni


Seusai memberi kuliah sore buat mahasiswa Stisip, aku bergegas ke pelabuhan Sape untuk mengecek bisnis warnetku yang baru berumur dua minggu. Operator warnet yang terlihat letih, langsung kuganti tugasnya dan menyuruhnya istirahat.

Letak Gaelby Net Café yang berada di sekitar losmen penginapan dekat pelabuhan transit Sape Bima, memungkinkan para turist yang ingin melancong ke Taman Nasional Komodo ataupun kembali dari flores NTT ke Bali, menginap 1 sampai 2 hari di kota pelabuhan Sape Bima Timur, sambil menunggu jadwal keberangkatan kapal fery dan angkutan umum yang terkadang suka telat.

Daun Singkong

Lembayung senja selepas Magrib masih samar-samar terlihat. Pengunjung warnet biasanya didominasi oleh para bule kalau kebetulan terjadi perubahan jadwal keberangkatan kapal fery.
Dua gadis cantik nampak di halaman parkir masing-masing dengan sepedanya, kelihatan terburu-buru, langsung masuk ke Gaelby Net. Roman mukanya memancar kecewaan, karena 10 unit komputer warnet telah terisi. Terdengar keluhan kecewa dari bibir sensualnya seperti berbahasa Jerman. Aku hanya bisa mengira-ngira.
Kedua gadis ini tetap sabar menunggu di kafe sebelah warnet sambil memesan dinner. Penjaga kafé datang ke arahku dengan langkah cepat dan bertanya :

“Mereka memesan duang sangkuriang. Kami bingung apa maksudnya?”
“Haahh, duang sankuriang? Bahasa apa tuh ! Daun singkong kaliiiii.”

Aku spontan nyeletuk dan beranjak dari tempat server menuju kedua gadis itu. Kebetulan bahasa Inggrisku, nggak jelek-jelek amat.

Sekarang aku berdiri tepat di hadapan keduanya yang duduk di kursi kafe. Ouih… Bujuk buneng ! Cantik dan sexy banget ! Aku terperanjat, walau berbeda warna, jenis pakaian yang dipakai hampir sama. Karena sama-sama memperlihatkan belahan dada yang… Ehm ! Sorry… gak bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana. 
. “Are you talking about duang sangkuriang?”

“Yuph, I’m vegetarian. I’d like to have my food with duan sankuriang.”

Wanita dengan kaos putih berambut pirang menimpali sambil memperlihatkan buku kecilnya, berisi foto semangkok sayur daun singkong yang dicampur santan kelapa.

“Haahaaa..haaaa…haaa… It’s daun singkong” Aku terbahak, serentak diikuti pelayan dan tamu kafé.

“You have to call it correctly. Daun Singkong, all right?”
“Ahaa… you’re right! Daun singkong.” Ia tersipu dengan bahu sedikit terangkat.

Tak terasa, jarum jam menunjuk jam 10 malam. Aku ngobrol dengan kedua cewek cantik ini selama hampir 4 jam.
Setelah saling mengenalkan diri, ternyata dua wanita cantik ini bukan dari Jerman seperti dugaanku. Keduanya dari Holand Nedherland. Gadis berkaos pink bermata biru bernama Jolien Tewelscher, 23 tahun, mahasiswi peneliti kimia dan yang berkaos putih dengan rambut pirang, Arween De graaf 31 tahun. Wanita mapan bergelar Doktor Hukum sebagai Advokat ternama di Belanda. 

Sesuai jadwal, besok pagi mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Denpasar setelah sekian lama melancong mengelilingi Indonesia bagian timur..

Sembari menyolek Jolien, Arwen bergegas beranjak dari tempat duduknya ke arah ruang warnet untuk  mengisi bilik kosong diikuti Jolien. Rupanya dari tadi memperhatikan bilik kosong. Dalam waktu hampir bersamaan, aku ke server untuk cek billing.
Suasana menjadi sepi, karena keduanya sibuk dengan urusannya masing-masing di depan Komputer Client.

“Escuse me, Your mouse doesn’t start.” Suara Jolien memecah kesunyian. 


Aku segera menuju bilik Jolien. Sewaktu mencoba menjalankan mouse yang memang perlu diganti, secara tidak sengaja melirik di monitor Lcd, Jolien membuka milis Bike to work. Aku penasaran, karena termasuk salah satu anggota perkumpulan pengguna sepeda Bike to Work Indonesia dan sudah terbiasa berinteraksi dengan milis itu.

“Are you used to share with this millis Jolien?” tanyaku penasaran.

“Yuph. Arween and me are incluling the member of Bike to work club”

“Me too, I can’t belive it.” Aku menimpali dengan nada kaget.

Roman muka tidak percaya dengan alis terangkat dari Jolien, menyelidikku seakan tidak percaya.

“Are you sure ! You must be kidding me”

Setelah mengganti mousen yang rusak, aku menyuruhnya mengecek kembali milis itu, apakah aku memang termasuk member atau asal ngarang saja.
Terlihat jelas di baris pertengahan, tertera namaku dan langsung menyuruhnya untuk klik ke foto profilku.
Jolien memperbesar ukuran foto profil sambil langsung menatap ke arahku dengan sedikit melotot.

“Exactly… you’re right Didi.” Celetuknya, sambil memanggil Arween dan menjelaskan kejadian itu dalam bahasa Belanda. Aku pusing mendengar percakapan mereka, karena mereka mengucapkannya seperti orang pilek berdahak. :))
Tiba-tiba Arween mendatangiku dengan senyum manisnya. Terasa agak janggal bagiku, karena dari gerakannya dia hendak merangkulku.

Dengan sedikit reflek aku mengelak. Walaupun dia sangat cantik, postur tubuhnya yang tingginya dua meteran itu, membuatku sedikit waspada.
Ternyata selama ini, kami hanya bertemu di milis dunia maya dalam sebuah klub pengendara sepeda. Tidak berlebihan antara saya dengan mereka, cepat sekali akrab.


.



Gaelby Net, tutup jam 11.00 malam. Tamu sudah berangsur pulang tersisa hanya kami bertiga, berdiskusi dengan suasana akrab. Prioritas utama mereka masuk warnet tadi, mencari informasi alamat perwakilan Bike to work di Kota/Kabupaten Bima. Secara kebetulan mereka menemukan orang yang mereka cari.
Aku teringat Olan, teman bersepedaku dan termasuk pengurus Bike to work Bima. Langsung saja aku berinisiatif untuk meneleponnya dan menyuruhnya untuk datang. Tapi sayang hp Olan tidak aktif. Karena memang sudah larut malam.


Update tentang Indonesia

Keramahan kedua wanita ini, membuatku betah untuk berlama-lama ngobrol mengenai banyak hal.
Cerita di kalangan pemandu wisata tentang turis asal Belanda yang terkenal pelit dan tidak sopan, tidak kutemui pada sosok Arween dan Jolien. Mereka begitu menyenangkan, smart dan enak diajak berdiskusi.
Tema diskusi kami antara lain tentang Indonesia. Mereka menyesalkan terjadinya kolonialisme dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh nenek moyang mereka terhadap Rakyat Indonesia. 

Otomatis, rasa Nasionalisku saat itu, seakan mendapat energi ekstra dari biasanya. Mereka secara langsung mendapat update tentang kondisi Indonesia dari opiniku yang menceritakan secara panjang lebar hal positif mengenai Indonesia.
Tentang betapa pentingnya untuk tetap menjunjung tinggi martabat dan jati diri bangsa, HAM, demokratisasi, politik santun, dan yang lainnya.
Yang menarik bagiku, adalah saat mereka mempertanyakan tentang gender dan Terorist.
Mengapa dalam Islam tidak membolehkan seorang Imam dari kalangan perempuan? Mengapa hanya laki-laki yang boleh poligami sedangkan wanita tidak?
Mengapa Islam Identik dengan terrorist?

Sebisanya aku menjelaskan bahwa keadilan gender dalam Islam bukan berarti menyama ratakan semua aspek. Definisi Keadilan dalam Islam adalah Proporsional. Semua hal, harus diletakkan dalam proporsi dan dosisnya masing-masing.
Sepasang sepatu seharga 2 juta rupiah, walaupun mahal, tidak mungkin kita letakkan di atas kepala. Sebaliknya, sebuah topi yang harganya hanya 10 ribu rupiah, tentu saja tidak akan kita letakkan di telapak kaki.
Jawabanku tentang Terorist, bukan karena Islamnya. Tetapi personal atau komunitas tertentu yang memang memiliki interpretasi yang keliru dalam memahami kitab suci. Perlakuan deskruktif, bukan hanya ada di kalangan individu yang kebetulan beragama Islam, tetapi banyak juga berasal dari Kristen, Hindu, Yahudi dan lain-lainnya.

Kami asyik berdiskusi sampai jam tanganku telah menunjuk angka satu. Kami sepakat untuk bertemu besok di hotelnya. Keduanya meminta waktuku untuk menemani mereka bersepeda, sebelum mereka meninggalkan Bima.


Obat kram yang mujarab.

Arween, Jolien dan Olan telah meninggalkanku lumayan jauh, ke arah jalan menanjak menuju Pantai Papa Sape Bima.

“Guabraakkkk!..... Aaaaaaaaaaakh… Olan… Tolooong, tolooongg !…

Aku mengerang seperti kucing terlindas truk, terjatuh dalam posisi sepeda terlempar. Persendian kaki dan paha, terasa teramat pegal dan sakit karena kram.

Kami telah bersepeda hampir seharian, dengan rute sulit dan menantang. Medan yang kami lewati berliuk, menanjak curam dengan tikungan tajam.

Biasanya, aku dan Olan bersepeda paling jauh 10 Km. Tiada waktu senggang kami lewatkan tanpa bersepeda. Walau terkadang menjadi cibiran dan kelihatan aneh di lingkungan kota Sape dan sekitarnya, kami tetap saja tidak memperdulikan ejekan mereka.
Bisa dimaklumi, karena eforia modern telah merambah daerah kami dengan munculnya kendaraan merek terbaru, dari motor sampai mobil.
Terdapat kebanggaan tersendiri saat bersepeda dengan pakaian kebesaran kami. Helm, baju, serta topi berlogo bike to work dengan bendera merah putih di sampingnya

Dari jam 10 siang, saat sinar matahari panas menyengat, tidak biasanya aku dan Olan mampu menaklukkan bukit Mangge Ampe Kaleo Sape tanpa henti langsung mencoba rekor baru menuju Pantai Papa Lambu dengan hanya sedikit istirahat untuk minum. Kami telah melewati rute perbukitan antara Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu Kabupaten Bima, kira-kira lebih dari 35 Km.

Mengapa kami begitu kuat dan perkasa? Padahal tidak minum jamu, multivitamin ataupun semacamnya?

Jawabannya, karena ditemani oleh dua bule cantik dan sexy asal Holland bernama Arween dan Jolien. Heehee…heee… hee….

Saat aku sibuk mengurus otot paha dengan posisi terguling, agar bisa meringankan kram otot yang teramat menyiksa, kemudian Olan muncul juga. Rupanya dia turun dari tanjakan bukit untuk mencariku.

“Kenapa neh? Kita tungguin dari tadi koq gak nongol-nongol. Eeh…malah tidur-tiduran di sini.”

“Tidur-tiduran, Nggak liat apa. Otot paha dan kakiku pada kram neh, tolongin donk…”

“ckkckkk….ckkk…ckkk, kram atau kumat lagi Abu Nawasnya neh. Karena lihat cwek cantiq kali.”

Layaknya juru pijet berpengalaman, Olan merenggangkan otot betis dan paha. Kemudian aku disuruhnya tiarap dan melipat kedua betis. Hasilnya? Malah tambah sakit. Gak ngaruh, heheee

Aku masih mengerang kesakitan. Tiba-tiba Arween dan Jolien muncul dengan raut muka khawatir, ikut menolong. Baru saja jemari kedua gadis cantik itu menyentuh bagian betis, serta merta aku langsung merasa agak enakan dan eitttt…. Langsung sembuh dan bangun. Ckk.. ckkk…


Olan, Jolien dan Erwin serentak menertawaiku. Entah karena takut atau karena sihir dari jemari kedua wanita itu, yang paling penting, aku sudah sembuh dari kram.

Kami langsung melanjutkan pertualangan itu. Menanjak, turun, berbelok diiringi gelak tawa dan canda. Sungguh hari yang menyenangkan. Karena asyiknya, kedua cucu kompeni ini lupa, bahwa jam 4 sore tadi seharusnya mereka sudah check out dari hotelnya. Berarti mereka telah menunda jadwal perjalanan yang telah mereka rencanakan sebelumnya.







Untuk pertama kali, saya dan Olan ditemani oleh anak moyang kompeni itu. Setelah naik turun bukit berkelok, akhirnya sampai juga di Pantai Papa Lambu dengan pasir putih bersihnya.

Dibawah remang temaram petang, kami menikmati sunset di pantai itu. Dasar bule, mereka tidak boleh lihat pantai. Tanpa membuang kesempatan, mereka segera bersiap untuk mandi. Waduuuuh… selanjutnya, anda bisa tebak sendiri apa yang terjadi. Heheeee…
Read more... Tamu dari Negeri Kompeni

Senin, 17 Mei 2010

Berhadapan dengan Tirani Raksasa

Sape Bima Timur NTB- Sengaja saya pilih judul yang sedikit provokatif, dengan harapan bagi semua pihak yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan ide Bima timur bisa sedikit waspada.
Kebetulan ada tema yang menarik untuk direview, tentang Indonesiaku, bukan Indonesia-Indonesiaan yang diadakan oleh Ma Chung Blog Competition 2010


Image disunting dari : south.indonesianyouthconference.org

Ide ini sesungguhnya bukanlah ide yang terlalu berat untuk diwaspadai, sekaligus ide yang ringan untuk dinafikkan begitu saja, sehingga membutuhkan kesabaran dan kearifan sosial untuk menganggapnya ide yang ringan dan membutuhkan potensi keserakahan yang luar biasa untuk menganggapnya ide berat. Paling tidak tulisan ini akan mencoba meyoroti eksistensi ide pemekaran wilayah yang akhir-akhir ini hangat dibicarakan di daerah, walau tidak sehangat pemberitaan tentang kasus Gayus Tambunan, Susno Duadji ataupun keahlian spesial kepolisian Indonesia dalam menembak mati teroris Hee.. heeheee...:)).
Karena saya tinggal di Kabupaten Bima, maka saya akan mencoba membahas tentang ide pemekaran Kabupaten Bima Timur. Paling tidak, akan menyoroti pemekaran Bima Timur dalam beberapa aspek. Selamat menyimak !

Realitas Masyarakat Kecil Yang ingin sejahtera.

Bagi Masyarakat pinggiran di wilayah kecamatan di seluruh Indonesia, khususnya di Kecamatan sape Kabupaten Bima, merasakan hidup yang memiliki akses publik birokrasi yang mudah, efisisen dan tidak berbiaya tinggi, serta akses ekonomi bagi peningkatan taraf hidupnya merupakan dambaan yang tiada pernah berhenti.

Dengan Kondisi wilayah dalam bentuk potensi sumberdaya yang cukup memadai untuk dikembangkan, keinginan masyarakat ini bukanlah sesuatu yang hiperbolik, di tengah berkembangnya wacana demokratisasi yang dikembangkan oleh negara. Hal ini bisa menjadi sesuatu yang lumrah terjadi. Apalagi jika pelayanan publik itu sendiri merupakan bagian terpenting dari item demokratisasi.

Realitas yang terjadi bahwa Kabupaten Bima memiliki peta geografis dan demografis yang tersebar luas mengelilingi Kota Bima. Tentu terjadi masalah dalam aspek pelayanan publik.

Di sebelah timur Kota Bima ada 6 kecamatan, yaitu Sape, Langgudu, wawo, Lambu, Wera, dan ambalawi dengan kecamatan yang paling ideal untuk ibukota kabupaten adalah Sape. Sedang di wilayah Barat ada 10 yaitu Pali Belo, Belo, Lambitu, Woha, Donggo, soromandi, Bolo, madapangga, Sanggar dan Tambora. Belum lagi akhir-akhir ini, DPRD Bima telah menetapkan ibukota Kabupaten di wilayah woha yang jaraknya lebih kurang 75 km dari pusat kota kecamatan Sape.

Bisa dibayangkan, sekedar untuk mengurus persuratan penting seperti KTP, SIM, Akta Kelahiran dan persuratan lain di kantor Pemda, masyarakat wilayah bagian Bima Timur harus merogoh saku ratusan ribu hanya untuk biaya transportasi dan akomodasi. sungguh hal yang cukup mubazir.

Di sisi lain masyarakat juga berharap dengan adanya pemekaran wilayah akan cukup menunjang motivasi mereka untuk lebih giat mengeksplorasi sumberdaya yang ada bagi peningkatan taraf hidupnya dengan adanya peningkatan infrastruktur ekonomi di wilayah kabupaten pemekaran.

Cita-cita Sederhana Seorang Aktifis Kampung

Berangkat dari kenyataan di atas seorang aktifis kampung macam saya punya sedikit kepedulian terhadap perkembangan masyarakat secara khusus dan Negara secara umum. Menurut Pelajaran sosiologi yang saya dapat waktu kuliah, bisanya perkembangan daerah itu secara alami mengikuti pola Bola Salju, dimana daerah yang terdekat dengan pusat kekuasaanlah yang lebih dulu merasakan akibat langsung dari proses pembangunan.

Artinya sangat disayangkan jika daerah-daerah kecamatan di wilayah ini, akan mengalami stagnasi pembangunan, dengan semakin jauhnya pusat ibukota kabupaten, dan bagi saya, merupakan tantangan sendiri sebagai aktifis kampung.

Image dari politikana.com

Kenyataan ini membutuhkan perjuangan untuk memekarkan wilayah menjadi 2 yaitu, Kabupaten Bima Timur dan Kabupaten Bima Barat.
walaupun terasa agak berat perjuangan ini tetap harus kami lanjutkan dengan harapan suatu saat akan menemukan tentang semakin sulitnya pemekaran wilayah kabupaten dari stasiun-stasiun televisi, maupun media masa. Tetapi kami menganggap masih punya peluang meski agak tipis.
Tentu saja perjuangan ini, akan kami lakukan dengan santun dan konstruktif, karena sebelumnya telah terjadi mimpi buruk dalam lembaran sejarah demokrasi Indonesia saat aspirasi masyarakat menuntut pemekaran kabupaten Tapanuli Selatan, yang berujung anarkisme yang memalukan dan menghilangkan nyawa ketua DPRD setempat.

Dalam pandangan kami, kebijakan pelarangan pemekaran ini termasuk kebijakan keliru. Yang harus di lakukan oleh pemerintah, bukan membatasi pemekaran tetapi melakukan penilaian yang ketat terhadap upaya pemekaran.
Bagi wilayah tertentu yang memiliki potensi besar untuk berkembang, justru merupakan upaya investasi untuk menciptakan peluang-peluang kemandirian ekonomi yang jauh lebih kuat dibanding melulu memperhatikan perkembangan ekonomi pemodal-pemodal besar yang justru terpusat di jakarta yang melahirkan jurang kesenjangan dan sistem ekonomi yang rapuh.
Terutama cara pusat mengeksploitasi dan melakukan pungutan ke daerah untuk disetor kembali ke Jakarta. Walaupun juklak dan juknisnya akan didistribusikan kembali ke daerah, namun tetap saja menimbulkan masalah tersendiri dalam penyalurannya, sehingga pada akhirnya akan merugikan daerah.

Biar lebih mudah dimengerti, saya ingin katakan bahwa setelah "upeti" sampai di Jakarta, maka tidak serta merta secara proporsional didistribusikan untuk Dana Anggaran Khusus, rutin dan istilah lainnya. Karena Jakarta mengalami masalah kekurangan finansial sendiri, setidaknya untuk mengembalikan utang luar negeri tahun 2010 ini saja, pemerintah pusat secara grajual harus mengembalikan bunga + pokok tepat waktu, sekitar 250 trilyun dari total utang luar negeri Indonesia yang semakin membengkak menjadi ribuan trilyun setiap pergantian rezim.
"Boro-boro" mendistribusikan ke daerah yang telah susah payah memberikan kontribusi finansial, Raksasa ini justru masih membutuhkan tambahan lagi. Belum lagi terjadi penyalahgunaan anggaran seperti anggaran 1.8 T untuk renovasi gedung DPR, renovasi pagar istana, mobil dinas menteri, kasus korupsi pajak, makelar kasus dan masalah serius lainnya.
Pusat terkadang lebay, heheee.. heee... Saat mereka katakan bahwa pemekaran dan otonomi daerah akan melahirkan raja-raja kecil. Mereka tidak sadar, bahwa sesungguhnya mereka menunjuk hidungnya sendiri. Karena realitasnya, raja-raja kecil yang dimaksud adalah suruhan raja besar yang tidak diberi kewenangan secara proporsional dalam mengurus daerahnya sendiri, melainkan untuk patuh pada kemauan "the giant big bos" yang ada di Jakarta. Heheee..heee...

Tirani Raksasa Yang bernama Birokrasi Negara.

Sungguh ide Pemekaran wilayah Bima timur, akan mendapatkan tantangan besar yang bebar-benar membutuhkan kearifan sosial untuk menafikkannya. Saya mencoba memahami tentang ini sebagai sebuah kerikil-kerikil tajam dalam perjuangan panjang dan luhur ini.

Mengapa saya harus menganggap birokrasi negara sebagai tirani raksasa ?
Paling tidak ada 3 alasan penting yang perlu saya ungkap disini.

Pertama,- Prinsip Birokrasi adalah kalau Bisa dipersulit kenapa dipermudah?
Hampir seluruh jajaran birokrasi di berbagai wilayah di negeri ini masih menggunakan prinsip lama, mengurus administrasi untuk KTP saja kita harus menggunakan uang pelicin, bagaimana kita tidak menganggapnya sebagai raksasa premanis? Hahaha...haa...:))

Kedua,- Bottom Up yang baru kita kenal sekarang masih sangat jauh untuk dipahami oleh birokrasi negara.
Masalah yang ada di wilayah-wilayah kabupaten/kota. Ide penguasa mutlak dan masyarakat dilarang memiliki ide. ini hegemoni besar yang tak kunjung bisa berakhir.

Ketiga,- Panjangnya jalur Birokrasi bagi prosedur pengusulan pemekaran Wilayah. Mulai dari Pemerintah kabupaten, disetujui oleh DPRD kabupaten, berlanjut ke Gubernur dan harus di setujui oleh DPRD Propinsi baru ke Menteri dalam Negeri sampai ke Presiden dan DPR pusat. Panjang Kan?

Birokrasi dalam pandangan kami sebagai aktifis kampung, terbagi 2 yaitu birokrasi pusat yang penuh dengan intrik politik, yang kadang baik juga kadang buruk, merupakan tantangan besar bagi upaya menggolkan ide pembentukan Kabupaten Bima Timur karena kami tidak memiliki akses dengan pemerintah Pusat.Birokrasi Daerah yang belum bisa memahami kebutuhan masyarakat dan daerahnya jika harus berkembang lebih maju. Perubahan adalah harusnya kata yang tepat untuk memaknai kemajuan, tapi mereka menganggap keberhasilan adalah sejauh mana birokrasi daerah mampu mempertahankan wilayah kekuasaan, peningkatan pendapan daerah meski dengan cara fiktif.
Kalau di negara-negara maju pendapatan daerah dan negara didapat dari pajak masyarakat yang secara proporsional didistribusikan dengan baik kepada masyarakat, tetapi Bagaimana dengan di Kita tercinta ? Saya yakin, teman-teman blogger bisa menjawabnya dengan tepat. Mudah-mudahan, memanfaatkan moment kebangkitan Nasional ini, tahap demi tahap bisa terkoreksi dan tidak menjadikan negeri ini, rakyat dihadapkan pada tirani raksasa dan dihuni oleh oknum "penguasa bedebah." Amiin...

Bravo Indonesiaku, Bravo Bima Timur !
Read more... Berhadapan dengan Tirani Raksasa

Selasa, 11 Mei 2010

Obat dan penyebab biang keringat

DEFINISI
Biang Keringat adalah suatu ruam kulit yang menyebabkan gatal-gatal. Paling sering ditemukan pada anak-anak, tetapi bisa menyerang usia berapapun. Bagian tubuh yang sering membentuk biang keringat adalah batang tubuh dan paha.


PENYEBAB
Penyebabnya adalah penyumbatan pada pori-pori yang berasal dari kelenjar keringat. Pada saat cuaca panas tubuh mengeluarkan keringat, tetapi karena adanya penyumbatan maka keringat tertahan di dalam kulit dan menyebabkan terbentuknya benjolan kecil berwarna merah.


GEJALA
Jika saluran kelenjar keringat tersumbat, maka keringat yang tertahan menyebabkan terjadinya peradangan, yang selanjutnya akan menimbulkan iritasi dan gatal-gatal. Biang keringat biasanya tampak sebagai lepuhan yang sangat kecil atau benjolan kemerahan yang sangat kecil di kulit.


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.


PENGOBATAN
Masalah yang timbul akibat biang keringat dapat diatasi dengan mengurangi pembentukan keringat. Usahakan agar kulit tetap kering dan dingin, dan yang terpenting adalah menghindari keadaan yang dapat meningkatkan pembentukan keringat. Bisa juga digunakan lotion yang mengandung corticosteroid atau kadang ditambahkan sedikit mentol.


Sumber : http://sehat-enak.blogspot.com/2010_02_01_archive.html 
Read more... Obat dan penyebab biang keringat

Pembengkakan kulit yang menyerupai kaligata dan lepuhan kecil yang sangat gatal Dermatitis Herpetiformis

DEFINISI
Dermatitis Herpetiformis adalah suatu penyakit kulit yang ditandai dengan adanya sekumpulan lepuhan kecil yang sangat gatal dan pembengkakan kulit yang menyerupai kaligata, yang sifatnya menetap. Penyakit ini terutama menyerang usia 15-60 tahun; jarang menyerang orang kulit hitam dan orang Asia.



Dermatitis Herpetiformis

PENYEBAB
Dermatitis herpetiformis adalah suatu penyakit autoimun. Gluten (protein) di dalam terigu, gandum dan gandum hitam mengaktifkan sistem kekebalan, yang menyerang bagian kulit dan menyebabkan timbulnya ruam dan gatal-gatal. Hampir semua penderita dermatitis herpetiformis juga menderita penyakit usus (penyakit seliak). Penderita juga memiliki kecenderungan untuk menderita penyakit tiroid.


GEJALA
Lepuhan-lepuhan kecil biasanya muncul secara bertahap; paling banyak ditemukan di sikut, lutut, bokong, punggung bagian bawah dan kepala bagian belakang. Kadang ditemukan di wajah dan leher. Penderita merasakan gatal-gatal dan rasa panas yang sangat hebat.



Dermatitis Lengan


Dermatitis Lutut


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pemeriksaan gluten-sensitive enteropathy dan immunofluoresensi langsung terhadap contoh jaringan kulit yang terkena.


PENGOBATAN
Penyakit ini diobati dengan dapson dan pemulihan dicapai dalam waktu 1-2 hari. Dapson memiliki berbagai efek samping, terutama pada sel darah dan biasanya menyebabkan anemia. Karena itu kepada penderita yang mengkonsumsi dapson dilakukan pemantauan terhadap sel darah. Kebanyakan penyakit ini menetap lama sehingga penderita harus mengkonsumsi dapson selama bertahun-tahun. Penderita sebaiknya menjalani diet bebas gluten.


Sumber : http://sehat-enak.blogspot.com/2010_02_01_archive.html 
Read more... Pembengkakan kulit yang menyerupai kaligata dan lepuhan kecil yang sangat gatal Dermatitis Herpetiformis

Sabtu, 08 Mei 2010

Berpikir Optimal


Dalam kesempatan mengikuti Ma Chung Blog Competition dengan tema Indonesiaku bukan Indonesia-indonesiaan ini, saya posting artikel sederhana mengupas tentang Berpikir Optimal. Selamat menyimak :)



Kita harus mulai sadar dan memahami, betapa pentingnya terus belajar. Walaupun belajar itu bukan tujuan akhir, tetapi belajar itu mestinya kita gunakan sebagai penopang untuk berpikir.

Semua yang kita pelajari, hendaknya dipandang sebagai bahan dasar dan bahan pertolongan untuk membentuk pikiran-pikiran dan daya khayal pribadi.

Menurut para pakar, ternyata batok kepala kita merupakan tempat pembuatan dan pembakaran barang-barang tembikar seperti genteng, pot dan sebagainya.

Kita memperoleh tanah liat, bahan-bahan pewarna dan pelapis (Glazuur) tentunya dari belajar. Kemudian kegiatan berpikir kita lah yang harus membentuknya menjadi pot, vas kembang, genteng dan lain-lain.

Semua orang pasti melakukan itu. Barang siapa yang ingin sukses apalagi ingin jadi pemimpin, hendaknya melakukan itu tiap hari.

Salah satu faktor penyebab dan menjadi alasan penting, kenapa banyak orang tidak mampu lagi memegang amanah sebagai pemimpin yang diembannya, karena tidak mau lagi belajar.
Otomatis mereka tidak mampu lagi memenuhi tuntutan yang berkembang.

Kejadian setiap hari, adalah sunatullah (hukum alam) yang secara pasti membentuk pikiran tentang 'APA YANG HARUS DILAKUKAN HARI INI ?'

Kegiatan yang menggunakan daya pikir, tentu tidak serta merta meminta tanah liat, bahan pewarna dan pelapis bila mempelajari sesuatu. Pasti secara spontan menginginkan pot dan vas bunga dalam keadaan jadi dan beres.
Sebagai mana disebutkan, kepala kita menyimpan pot dan vas kembang itu dengan tujuan secara tepat dan cepat memiliki vas kembang yang pada saat-saat tertentu dapat dipergunakan.

Sama sekali bukan merupakan suatu berkah, manakala kita menumpuk pikiran-pikiran kita dalam kepala, kecuali menggunakannya untuk pertimbangan atas perbedaan.

Menumpuk pikiran, malah membikin kekacauan dan lebih sukar melakukan pilihan yang tepat. Karenanya memasukkan pemikiran baru, kemudian memisahkan mana yang berharga dan mana yang seharusnya dipelihara, harus selalu beriringan.
Tetapi dalam prakteknya tidak selalu seperti itu.
Seorang pakar Fisika ternama Lord Kelvin berpendapat, bahwa semua ilmu pengetahuan hendaknya didampingi oleh seni menimbang dan mengukur.

Kalau kita bisa melakukan apa yang dikatakan Lord Kelvin, maka dunia akan nampak indah dan lebih baik.
Daripada kita berdebat dan mencari pro dan kontra mengenai pemikiran, maka sebaiknya mulai sekarang kita biasakan berpikir dengan cara menimbang dan mengukur tentang ;
- mana yang tepat
- mana yang berguna
- mana yang berharga

Kebiasaan buruk kita sekarang, masih dalam tahap menggali suatu ide dan kemudian diolah dan dikemas dalam satu perdebatan sehingga menghasilkan perdebatan lainnya. P
Padahal, praktisnya adalah dimulai dengan mengajukan pertanyaan ;
- berapa beratnya?
- berapa panjangnya ?
- berapa lebarnya ?

Tanpa bermaksud untuk menafikkan Nasionalis dan patriotisme terhadap negeri tercinta, maka sebagai bangsa dan negara, Indonesia perlu bangkit dari keadaan yang rapuh dan terpuruk seperti sekarang ini.

Sangat perlu kearifan sosial, untuk segera berpikir optimal sehingga tema Indonesiaku bukan Indonesia-Indonesiaan membangunkan kita dari keterlenaan.
Meminjam istilah dari politisi PKS Muhammad Fahri Hamzah :
"Memimpin negara ini gak bisa main-main. Kita harus bangkit dari keterpurukan ini. Kalau tidak Indonesia ini gak bakalan maju-maju. Terdapat indikasi bahwa kita semakin mundur, lama-lama negara ini bisa bubar jalan. Heheee... Semoga kita tidak sepesimis Fahri :).

Bangkitlah Indonesiaku !

Read more... Berpikir Optimal

Jumat, 07 Mei 2010

Reformasi Penjurian Kontes Bonsai


Setiap pameran (kontes) bonsai selalu saja terjadi kontroversi soal hasil penilaian para juri. Ketidak-puasan selalu saja muncul dalam berbagai bentuknya. Model penjurian yang selama ini dilakukan PPBI dianggap ketinggalan jaman. Maka muncul model penilaian alternatif. Meski ternyata, hal ini juga tidak lepas dari kontroversi juga.
Selama ini, model penjurian yang dilakukan oleh Juri PPBI adalah menggunakan metode kuantitatif. Bahwa setiap bonsai peserta pameran dinilai dalam bentuk angka-angka, sehingga akhirnya dapat direkap dan diketahui bonsai mana yang mendapatkan nilai tertinggi. Itu sebabnya dalam sebuah kontes, panitia akhirnya dapat menyebutkan Best Bonsai in Show, The Best Ten, The Best in Size atau The Best in Species.
Di sisi yang lain, ada model penjurian (sebut saja) kualitatif, yaitu memilih bonsai-bonsai yang terbaik menurut penilaian masing-masing juri, kemudian dilakukan cross check sehingga akhirnya ditemukan sejumlah bonsai terbaik. Pemberian angka dapat dilakukan setelah ditemukan nominasi bonsai terbaik tersebut.
Masing-masing model penilaian tersebut seolah-olah menjadi dua kutup dalam kontes bonsai. Model kuantitatif dilakukan PPBI, sedangkan model kualitatif dilakukan dalam pameran non-PPBI. Meskipun, PPBI sendiri pernah melakukan model penilaian kualitatif, yaitu ketika dilangsungkan pameran ASPAC di Bali tahun 2007. Hal ini karena semua jurinya berasal dari luar negeri.
Tanpa bermaksud mempertentangkan dua model penilaian tersebut, setidaknya model kedua (kualitatif) muncul karena ada ketidak-puasan terhadap penilaian kuantitatif yang dilakukan juri-juri PPBI. Suara-suara yang selama ini muncul, menganggap bahwa juri tidak mengikuti perkembangan dunia bonsai. Itu sebabnya bonsai yang menang kebanyakan gaya formal, atau bonsai yang “memohon” (menyerupai pohon mini). Sedangkan bonsai gaya “kontemporer” dipastikan tidak akan mendapat juara.
Kecenderungan seperti ini dianggap menghambat perkembangan bonsai. Ketika bonsai sudah memasuki wilayah seni, maka aspek estetik sangat penting diperhitungkan. Bonsai tidak bisa hanya semata-mata dinilai berdasarkan angka-angka kuantitatif belaka, melainkan harus juga memperhitungkan aspek estetikanya. Dengan kata lain, bahwa dalam seni bonsai terkandung juga ekspresi pembuatnya (baca: seniman bonsai).
Hanya saja, satu-satunya kontes bonsai yang masih ”diakui” selama ini adalah model penilaian kuantitatif gaya PPBI itu tadi. Apa boleh buat. Orang boleh saja protes, tidak puas, menolak dan sebagainya, namun selama mengikuti pameran PPBI maka harus tunduk pada aturan penjurian yang sudah dibakukan oleh satu-satunya perkumpulan penggemar bonsai di Indonesia itu. Dengan kata lain, kalau tidak setuju model penilaian seperti itu, ya gak usah ikut pameran. ‘
Dan memang begitulah yang terjadi selama ini. Sudah semakin banyak orang-orang yang menolak penjurian model PPBI, kemudian bersikap “dewasa” dengan cara tidak ikut pameran. Bahkan, ada juga yang terang-terangan menolak ikut pameran karena ada oknum juri yang dianggapnya tidak credible dalam melakukan penilaian. Ada pemain bonsai senior yang terang-terangan menolak ikut pameran kalau nama-nama tertentu tercantum menjadi anggota Tim Juri. Dan hal ini, sah-sah saja dilakukan. Ketimbang memaksakan diri ikut, tapi kemudian ngomel-ngomel terhadap hasil penilaian.
Tentu saja, kondisi ini menjadi bahan introspeksi bagi Juri PPBI sendiri. Mereka perlu melakukan evaluasi, baik terhadap sistem, maupun personal jurinya sendiri. Perbaikan harus terus menerus dilakukan, karena seni bonsai terus berkembang. Perkara laju upaya perbaikan itu masih belum sebanding dengan tahapan perkembangan seni bonsai, yang penting sudah ada upaya memperbaiki, dan tidak bersikukuh pada status quo.
Berbagai Pendapat
Kontroversi model penilaian bonsai yang ideal ini pernah dimunculkan ke permukaan oleh majalah Green Hobby (sudah tidak terbit lagi, red) sekitar dua tahun yang lalu. Pendapat Freddy, Sulistiyanto, Robert Steven dan Gunawan, di bawah ini, disarikan dari majalah tersebut.
Menurut Freddy Kustianto, mantan ketua Dewan Juri PPBI, juri bonsai harus menguasai ilmu botani. Tidak bisa hanya menilai bonsai semata-mata hanya dari segi penampilannya saja. Juri harus kuasai karakter masing-masing jenis pohon, tahu habitatnya, sehingga juga harus tahu tingkat kesulitannya. Sehingga, tidak bisa dilakukan penilaian dengan menyamaratakan semua jenis tanaman. Harus ada penilaian berdasarkan spesiesnya, dan juga ukurannya.
Sementara Sulistiyanto Soejoso, salah satu pendiri PPBI Sidoarjo, berpendapat sebaliknya. Juri bonsai tidak perlu memperhitungkan aspek botani, sebab pada prakteknya juri kita memang bukan ahli botani. Aspek kesehatan juga tidak perlu diperhitungkan, sebab bonsai yang tampil mustinya harus sehat. Bonsai adalah karya seni rupa, jadi harus dinilai berdasarkan penampilannya belaka. Tidak mungkin juri menguasai semua jenis pohon sebagaimana mengenalnya dengan baik di alam.
Sedangkan Gunawan Wibisono, ketua Dewan Juri PPBI, secara umum menyatakan, bahwa sistem penjurian bonsai yang dilakukan selama ini sebetulnya merupakan bagian dari proses pembelajaran bagi para penggemar bonsai. Itulah sebabnya ada rapor penilaian yang dibuat dalam setiap kontes. Memang banyak yang tidak sesuai dengan yang diinginkan sebagai penjurian yang ideal, namun tak bisa menyalahkan juri saja. Semua pemain bonsai harus introspeksi.
Umar Hs, sekretaris Dewan Juri yang ditemui oleh majalah Jelajah Bonsai baru-baru ini, mengungkapkan bahwa perbaikan demi perbaikan terus menerus dilakukan oleh Dewan Juri PPBI. Bahwa sepanjang sejarah PPBI baru dalam periode ini dilakukan pertemuan rutin setiap 6 (enam) bulan sekali antarjuri, yang selalu saja membahas upaya untuk memperbaiki sistem penilaian.
Bahwa bonsai adalah sebuah karya seni, sudah direspon oleh para juri dengan mengubah metode penilaian dengan mengutamakan aspek penampilannya lebih dulu, baru kemudian dinilai aspek-aspek yang lainnya. Para juri juga diharuskan keliling lokasi pameran lebih dulu untuk mendapatkan gambaran umum mengenai kualitas peserta, dan boleh melakukan penilaian darimana saja, jadi tidak langsung memberi angka pada bonsai yang pertama kali dilihatnya.
Dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Klub Seni Bonsai Indonesia (Aksisain) di Surabaya akhir Februari lalu, Wahjudi D. Soetomo juga mengemukakan model penilaian tersendiri dalam pameran bonsai. Menurut pendiri Forum Komunikasi Bonsai Surabaya (FKBS) ini, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan terkait penjurian bonsai. Yaitu, wawasan tentang bonsai, kriteria penilaian, dan kriteria juri itu sendiri.
Bahwa juri harus menguasai betul apa yang disebut bonsai itu. Bahwa bonsai disamping sebagai obyek juga sebagai subyek. Bonsai yang baik harus memenuhi dua faktor, yaitu organik dan estetik. Terhadap dua aspek itulah dilakukan penilaian terhadap bonsai, berdasarkan obyektivitas dengan menggunakan ilmu pengetahuan serta wawasan tentang bonsai yang baik sebagai pijakan. Sedangkan sosok juri itu sendiri, haruslah orang yang punya wawasan luas tentang bonsai, bisa membuat bonsai, punya karya tulis tentang bonsai serta memiliki reputasi baik di bidang bonsai secara nasional maupun internasional.
Pandangan dari orang luar bonsai, datang dari Suwarno Wisetrotomo, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Menurut kurator yang berpengalaman dalam banyak pameran senirupa nasional itu, penjurian justru harus mengutamakan kondisi kehidupan bonsai itu sendiri. Boleh-boleh saja bonsai memiliki ungkapan estetik yang indah, namun kalau kemudian disiksa sedemikian rupa sehingga tinggal hanya dua daun misalnya, itu tidak dapat ditoleransi sama sekali.
Bahwa bonsai sudah memiliki rumahnya sendiri, yaitu Seni Bonsai. Karena itu diperlukan penjurian lintas disiplin untuk menilai bonsai, tidak cukup hanya dari sisi estetisnya saja, sehingga dapat mengembangkan parameter dengan adanya perpektif bandingan dari luar bonsai. Dalam kompetisi senirupa misalnya, kadang diperlukan seorang filsuf untuk memberikan penilaian menurut keahliannya.
Sumber : Majalah JELAJAH BONSAI edisi 01 – 2010
Read more... Reformasi Penjurian Kontes Bonsai

Senin, 19 April 2010

Bonsai sebagai seni dan miniatur keindahan alam



Tuhan telah menciptakan alam yang sudah menyediakan pepohonan dengan keindahan tersendiri. Namun manusia juga bisa menambahkan keindahan ketika pohon itu dipindah dalam pot sebagai bonsai.
Maka, bonsai yang bagus adalah yang memiliki keindahan alam dan sekaligus keindahan seni. Keindahan alami adalah keindahan transenden, kata Sigit Margono, dosen seni patung yang sering menjadi pengamat bonsai.

Keindahan alam sudah ada dengan sendirinya. Tinggal bagaimana manusia mempelajari dan menikmatinya. Keindahan dari alam adalah keindahan yang mengikuti bahannya sendiri. Namun ketika pohon itu dijadikan bonsai, maka dibutuhkan program, training, dan serangkaian perlakuan lain untuk mencapai keindahan seni. Dengan catatan, keindahan seni itu tetap tidak terlepas dari keindahan alam.

Karena bonsai adalah medium bagi seniman untuk menjadikan karya yang diinginkan. Bonsai ibarat kanvas bagi seniman lukis, atau sebongkah kayu bagi seniman patung. Bedanya, dan inilah keistimewaannya, bonsai harus tetap menjadi pohon hidup.

Soal keindahan itu memang relatif, namun menurut Wahjudi D. Soetomo, keindahan dapat dipelajari. Ada ilmunya. Standar keindahan bonsai memang tergantung katagori bonsai itu sendiri. Kalau bonsai konvensional, tentunya harus mengacu pada aturan atau pakem yang sudah ada.
Misalnya soal perbandingan besar batang, cabang dan ranting. Juga arah percabangan, posisi dimana cabang itu tumbuh. Serta juga bagaimana pula dengan kaki atau akarnya. Sedangkan bonsai kontemporer, cenderung bebas, tidak ada aturan baku yang harus dianut untuk dapat disebut indah. Satu-satunya aturan yang harus dianut adalah, bahwa bonsai itu harus tetap hidup.

Bonsai itu tergolong seni rupa tiga dimensi. Namun menurut Sunardi, penggemar bonsai Probolinggo, bonsai tidak bisa digolongkan seni rupa. “Bonsai yang tetap bonsai. Bahwa bonsai itu seni memang iya, yaitu Seni Bonsai,” ujar mantan Kepala Cabang Dinas Pendidikan yang rajin berburu bonsai itu.
Wahjudi yang merasa bertanggungjawab sebagai pihak yang mencetuskan wacana itu, menerangkan bahwa pada hakekatnya seni rupa itu adalah karya seni yang mengedepakan aspek rupa (visual).

Kalau diterapkan pada bonsai, maka ada elemen-elemen seni rupa yang dapat diterapkan. Yaitu, ada komposisi, keseimbangan, harmoni, proporsi, kedalaman, keserasian, pusat perhatian (center of interest) dan unity (kesatuan). Kesemuanya itu merupakan hal-hal mendasar dalam seni rupa. Juga pada bonsai.
Pameran nasional bonsai di Bali tahun lalu yang diselenggarakan dalam rangka ASPAC IX, menurut Wahjudi membuktikan bahwa keindahan seni pada bonsai mulai diakui. Pameran yang seluruh jurinya berasal dari luar negeri itu ternyata banyak memberikan penghargaan pada bonsai bergaya kontemporer.

Bagaimana menangkap keindahan pada sebuah bonsai?

Yang perlu diperhatikan adalah garis, yaitu imajinasi kita terhadap fakta visual. Garis dapat dibaca pada batang, cabang dan ranting.
Kedua, bentuk, yaitu kumpulan daun atau silhoutte tanaman secara keseluruhan. Daun itu sendiri sebagai bentuk mikro, sedangkan kumpulan daun adalah bentuk makronya. Ketiga, adalah nilai, yaitu aspek gelap terangnya cahaya. Keempat, tekstur, yaitu kualitas permukaan yang dapat diraba. Dan terakhir, yaitu warna, yaitu kualitas permukaan yang ditimbulkan oleh cahaya. Warna, bukan hanya pada daun, batang, namun juga pada potnya.

Salam Blogger, Bravo Bonsai Indonesia !

(Majalah GREEN Hobby, No 11 – 2008)

Read more... Bonsai sebagai seni dan miniatur keindahan alam

Sabtu, 03 April 2010

Beranikah Kita Berkata TIDAK ?

Pasti teman-teman blogger, pernah berada dalam situasi bingung, saat diajak kawan dekat kita. Mau bilang "tidak," takut dibilang gak setia kawan. Mau dijawab "iya," hati nurani terus menerus menolaknya, hingga bimbang dan gak ikhlas.

Berikut adalah strategi untuk mengatakan "tidak" dari resep William Ury dalam buku 'The power of possitive No'

Niat

Mengatakan tidak harus diniatkan, bukan untuk sekedar ingin berbeda dengan teman yang mengatakan ya, tetapi ada alasan kuat yang mendasarinya.
Maka niatkan penolakan untuk sesuatu yang positif dan bermanfaat.

Hilangkan rasa takut

Ketika memutuskan untuk berbeda pendapat, terkadang muncul rasa takut. Maka yakinkan diri anda, bahwa kata 'tidak' itu adalah jalan terbaik.
Ubah rasa takut yang menyerang anda dengan percaya diri yang dilandasi keyakinan teguh bahwa yang anda lakukan adalah yang benar.

Siapkan rencana alternatif

Ketika kita mengatakan 'tidak' itu artinya kita sudah harus memiliki rencana alternatif atau plan B. Jadi, kalau nanti ditanya 'Jadi maumu apa?' Anda sudah tahu jawabannya
.
Perkuat Rencana Alternatif

Untuk mendukung 'tidak' tadi, maka kita harus berstrategi. Kembangkan rencana dan cari dukungan dari orang lain yang kelak bisa memperkuat rencana anda.

Prepare for the worst

Kalau kita berani bersikap, maka kita juga harus berani menerima beragam konsekwensinya, walaupun yang terburuk sekalipun.

Re-thinking

Pikirkan ulang keputusan 'tidak' tadi. Kaji ulang sikap anda dengan menanyakan pada diri sendiri. "Apakah saya memiliki kepentingan dalam hal ini? Apakah saya memiliki kekuatan yang bisa mendukung sikap ini? Apakah saya memiliki hak untuk melakukan penolakan?


Bersikap

Kalau Anda sudah yakin dan siap dengan resikonya, lalu bersikaplah sesuai prinsip tadi.

Mahatma Gandhi : "KATA TIDAK YANG DIUTARAKAN DARI KEYAKINAN TERDALAM ADALAH LEBIH HEBAT, DARIPADA YA, YANG DIUTARAKAN HANYA UNTUK MENYENANGKAN ATAU MENGHINDARI MASALAH"

Well, Selamat mencoba !




Read more... Beranikah Kita Berkata TIDAK ?

Jumat, 26 Maret 2010

Kolesterol Berbahaya atau Tidak ?

Di antara kita, pasti ada yang tak sepenuhnya faham tentang kolesterol. Kebanyakan dianggap sebagai momok yang menakutkan.

Dalam postingan ini, saya akan membantu menjelaskan. Karena saya pada awalnya memang tidak tahu menahu tentang ini.

Berkat hasil konsultasi dari teman dokter dan pengalaman pribadi, maka saya merasa perlu membagi kepada para bloggers. Kalaupun saya salah, mohon saya dikoreksi. Ok, selamat meyimak !

Manfaat Kolesterol

Kolesterol sebenarnya bukanlah zat yang menakutkan, seperti yang biasanya dibayangkan orang.
Kolesterol adalah lemak yang berwarna kekuning-kuningan dan sangat ber­guna untuk kesehatan.
Tubuh memerlukannya untuk mem­buat hormon reproduksi dan fungsi seksual, hormon adre­nalin yang diperlukan dalam proses metabolisme, dan vita­min D. Kolesterol juga berguna untuk mengangkut lemak dalam darah ke seluruh tubuh.

Hati menghasilkan sekitar satu gram kolesterol setiap hari, yang dapat dibuat pula oleh semua sel tubuh.

Sejum­lah kecil kolesterol, yaitu 0,3 gram per hari, diserap oleh usus, tak tergantung dari jumlah kalori yang dimakan, melainkan kalori dari makanan yang kandungan lemaknya tinggi sehingga menyebabkan tubuh harus menghasilkan kolesterol lebih banyak, agar tingkat kolesterol darah meningkat.

Prikiuwww... mulai ribet yaa, penjelasanku! heehee... sabar... Ok, lanjuut !

Lemak jenuh merupakan faktor utama penyebab tinggi­nya kolesterol, karena kolesterol dalam darah berada sebagai ikatan lemak dan protein, yang disebut lipoprotein.

Lipoprotein terdiri dari 2, yaitu :

1. HDL (high-density lipoprotein), sebagai lipo­protein berkerapatan jenis tinggi yang bermanfaat bagi tubuh, karena HDL menghi­langkan kolesterol yang ada di dalam darah dan dinding­-dinding pembuluh darah serta mengembalikannya ke hati, tempat kolesterol itu dihasilkan dan dikeluarkan.

2. LDL (low-density lipo­protein), sebagai lipoprotein berkeraparan jenis rendah yang justru merugikan tubuh dan kesehatan, karena mempunyai fungsi yang bertolak belakang yaitu mengangkut kolesterol dari hati ke seluruh tubuh, sehingga mempermu­dah timbulnya timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah sebagai akibat menyempitnya arteri.


Bahaya kolesterol

Setelah faham manfaat kolesterol, maka saatnya kini anda tahu tentang bahaya kolesterol. Heeheee... :)

Meskipun baik untuk kesehatan, kolesterol dapat berbahaya bagi kesehatan bila kadarnya terlalu tinggi atau di atas 5 mmol/liter darah.

Kolesterol yang perlu anda diwaspadai tentu saja LDL (low-density lipo­protein)
karena akan mengangkut kolesterol dari hati ke seluruh tubuh, sehingga mempermu­dah timbulnya timbunan lemak pada dinding pembuluh darah, sebagai akibat menyempitnya arteri.

Karena menyempitnya arteri akibat banyaknya timbunan lemak, maka akan menghambat kerja dan mobilitas organ tubuh kita, salah satu contohnya akan mengganggu cara kerja jantung dalam memompa dan menyalurkan darah ke seluruh tubuh.
Tidak mengherankan, kita tiba-tiba mendengar salah seorang kerabat kita, meninggal walau sebelumnya kita tahu, bahwa dia tidak pernah mempunyai riwayat penyakit atau bahkan tidak pernah ke dokter, saking sehatnya dia dan sekarang dia yang kita cintai, meninggalkan kita untuk selama-lamanya akibat serangan jantung yang diakibatkan oleh kolesterol.

Timbunan lemak LDL yang mesti anda hindari adalah lemak yang umumnya berasal dari hewan seperti menghindari menkonsumsi kuning telur, daging, susu, produk susu, dan sejenisnya

Lemak jenuh/HDL atau kolesterol yang bermanfaat, umumnya didapat dari sumber tumbuh-tumbuhan seperti pada minyak kelapa, minyak kelapa sawit, santan, dan sejenisnya,

Maka mulai sekarang, akan lebih baik kalau anda mulai menkonsumsi makanan seperti: tempe, tahu, dan kacang-kacangan serta dalam makanan yang mengandung lemak tak jenuh ganda dan tak jenuh tunggal, yang digoreng atau diolah dari minyak kedelai, minyak kacang, minyak selada, dan minyak jagung.

Untuk mengurangi kadar kolesterol dalam darah, hendak­nya susunan menu makan sehari-hari mengandung lemak tidak jenuh ganda dua kali lipat dari jumlah lemak jenuh.

Produk terigu, misalnya roti, di samping emping jagung, mempunyai kadar tinggi serat larut yang menurunkan ko­lesterol. Berolahraga secara teratur akan meningkatkan pembakaran lemak dan kolesterol.

Cara Mencegah Kolesterol

Pola makan yang lebih didominasi lemak, terutama lemak jenuh, dapat mendorong munculnya penyakit kolesterol. Karena itu untuk mencegahnya Anda harus mengatur makanan yang Anda konsumsi.
Caranya:

- Konsumsi sayur dan buah-buahan yang berserat tinggi, gandum atau oat, serta kacang-kacangan.
- Konsumsi makanan yang mengandung betaglucan seperti apel, pir, wortel, kapri, buncis, kacang panjang, almond, dan biji bunga matahari.
- Pertahankan berat badan ideal karena orang dengan berat badan lebih cenderung memiliki kadar kolesterol tinggi.
- Lakukan olahraga dengan teratur agar metabolisme tubuh bekerja dengan baik.

Ok bloggers ! Semoga dapat bermanfaat, good luck !
Read more... Kolesterol Berbahaya atau Tidak ?

Selasa, 09 Maret 2010

Kejanggalan ini



Kuterperangah ditemani nelangsa hampa


Tatkala ada getaran aneh di palung hati


Tatkala desahan nafas bersyair sumbang


Tatkala detak jantung berdenyut hambar


ada tanya…


Kenapa paras itu lancang hadir dibenak?


Kenapa nama itu lancang melukis jiwa?


Kenapa gerak langkah itu lancang masuk


menembus imajinasi?


Kubenci semua ini tetapi juga…


Menyemai inginku menumbuh harap


Menyemai rinduku menumbuh cinta


Biar kunikmati kejanggalan ini

Read more... Kejanggalan ini

Sabtu, 20 Februari 2010

Makanan sehat yang bernama Keju


Keju adalah salah satu produk susu yang paling penting dan banyak dikonsumsi. Diperkirakan ada lebih dari 3000 jenis keju di seluruh dunia, yang berasal dari Perancis, Jerman, Belanda, Denmark, Swiss, Italia, Inggris, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa lain.

Bahan Keju
Keju terbuat dari susu sapi, tetapi juga sebagian besar mamalia lain, termasuk domba, kambing, kerbau, rusa kutub, unta dan yak. Sekitar 4000 tahun yang lalu orang-orang sudah mulai mengembangbiakkan hewan dan mengolah hasil susunya. Saat itulah keju lahir.

Mengapa keju bisa bolong/berlubang-lubang?


Pernahkah Anda menemukan keju yang bolong-bolong? seperti yang sering kita lihat di gambar atau film kartun?

Keju bolong biasa ditemukan di Swiss, penyebab lubang-lubang ini karena bakteri Propioni. Bakteri ini umumnya terdapat pada keju balokan, Limburger dan Liderkanz. Bakteri Propioni memberikan rasa manis dan gurih pada keju. Keju dibuat dari susu yang diasamkan. Proses pengasaman itu dibantu oleh ragi dan bakteri.

Saat keju menjalani masa pengawetan, bakteri-bakteri Propioni mengeluarkan semacam gas. Gelembung-gelembung gas inilah yang membentuk lubang-lubang bundar pada keju Swiss.

Karena lubang-lubang ini, keju Swiss jadi begitu unik dan khas. Beberapa jenis keju lain memperoleh bentuk yang khusus serta rasa tersendiri dari jamur tertentu. Urat-urat biru yang tampak pada keju Roquefort disebabkan oleh jamur Penicillium roquefortii. Jamur ini membuat permukaan keju menjadi licin. Sedang keju Camemberti ditumbuhi jamur putih kelabu bernama Penicillium camemberti. Jamur ini menyebabkan warnanya menjadi kekuning-kuningan.

Sejarah Keju

Keberadaan keju dimulai ketika seorang penggembala sapi menemukan susu yang disimpannya dalam tas dari kulit kambing, membeku dan terfermentasi ketika tertinggal di gua. Seorang pria lapar memakan gumpalan susu tadi dan menyukai rasanya. Sejak itu susu sengaja difermentasi untuk menghasilkan makanan yang kemudian kita kenal sebagai keju.

Dahulu kala para petani menyimpan sisa susu dan membiarkannya menggumpal. Setelah itu, gumpalan keju dipukul-pukul menggunakan tangkai pohon, dibungkus dan ditindih dengan batu sambil dibiarkan menjadi kering di terik matahari. Untuk memberi rasa, keju kemudian diperciki dengan garam.

Di abad 20, para industriawan mengubah cara tradisional itu. Mereka memperkenalkan banyak jenis keju baru yang kaya rasa. Keju termasuk protein yang tinggi nilai gizinya. Keju juga menghasilkan energi yang besar. Di dalamnya terkandung kalsium dan phosphorus, terutama keju-keju yang dimasak. Keju sangat baik untuk menggantikan susu terutama bagi mereka yang tidak menyukai susu.

Macam-macam keju

Keju dibedakan pertama-tama dari cara pembuatan. Ada dua kelompok besar keju: keju segar dan keju padat. Keju segar tidak mengalami proses pemasakan dan pengepresan. Warnanya putih dan dimakan seperti mentega: dioleskan, atau jika dipadatkan ia dikemas dalam air. Termasuk ke dalam jenis ini adalah Mozzarella.

Keju padat, sebaliknya, dibuat dengan pemadatan, pemanasan, pengepresan dan yang paling menentukan, pematangan. Keju yang belum lama mengalami pematangan dapat disebut sebagai keju muda. Semakin lama, ia menjadi keju tua. Keju padat biasanya kering, untuk diiris atau dilelehkan.

Walaupun sulit untuk menyebutkan semua macam keju berikut dipaparkan beberapa keju yang populer. Di Perancis umpamanya, pada beberapa daerah setiap desa memiliki keju khasnya sendiri, sehingga sulit untuk menyebutkannya secara lengkap.

Keju yang populer, diantaranya adalah:

1. Keju Belanda
Keju asal negeri Belanda yang terkenal adalah Gouda dan Edam. Keduanya dinamai dari nama tempat. Kedua jenis keju ini adalah keju “muda” (usia pemasakan singkat, empat bulan). Rasanya netral. Bentuk kemasan Gouda yang khas adalah seperti bulatan gepeng berlapis “kulit” warna merah atau kuning.

2. Keju Swiss
Keju Swiss yang khas dikenal karena memiliki banyak rongga-rongga udara di dalamnya. Rongga-rongga ini terbentuk sewaktu proses pematangan, akibat akumulasi karbondioksida dalam tahap pematangan. Dua jenis yang populer adalah Emmental dan Appenzell. Keju Emmental matang setelah penyimpanan minimal empat bulan, memiliki rasa manis. Keju ini dapat diparut lalu dipanaskan dalam oven sebagai penutup schotel. Appenzell dijual dalam berbagai umur kematangan, tetapi pasti lebih dari enam minggu. Keju ini lebih beraroma dan rasanya lebih kuat dan lebih asin. Jenis lainnya adalah Gruyère, dengan rasa lebih kuat daripada Appenzell, yang cocok untuk fondue serta menemani roti dan anggur.

3. Keju Inggris
Salah satu keju Inggris yang terkenal adalah keju Cheddar. Selain itu, Inggris juga dikenal dengan keju Stilton, keju Bonchester, keju Buxton Blue, keju Dovedale, dan keju Swaledale.

4. Keju Spanyol
Keju Manchego memiliki kulit berwarna hitam. Keju biri-biri dari La Mancha ini bila berumur dua bulan disebut curado, selanjutnya disebut viejo (keju dalam bahasa Spanyol). Keju ini memiliki rasa rempah dan gurih, dan biasa dimakan bersama minyak zaitun, buah kurma, atau selai.

5. Keju Italia
Keju lunak Italia yang dikenal adalah Pecorino, yang lebih pedas dari Manchego. Keju Parmesan dan Pecorino biasa dipakai menemani pasta. Mozarella adalah keju segar yang biasa dimakan untuk sarapan.

6. Keju Prancis
Tête de Moine (“kepala sang biarawan”, karena bentuknya) adalah keju lunak dengan rasa rempah yang agak kuat. Keju ini dapat dimakan bersama roti atau menemani asinan. Prancis juga terkenal dengan keju kambingnya, yang dikenal luas sebagai Chèvre. Apabila masih muda, keju ini netral, beraroma lemah, namun semakin matang aroma dan rasanya semakin kuat. Keju ini serba guna: dapat menemani roti, selai, cuka, asinan, atau diolah lebih lanjut.

7. Keju Jerman
Daerah pegunungan selatan Jerman memiliki keju Schönegg, yang berasal dari Allgäu. Keju yang matang setelah setahun ini memiliki sentuhan sedikit asin dan manis. Kulitnya dapat dimakan. Sebagaimana keju Swiss, keju ini memiliki rongga-rongga.

Untuk mengenal lebih banyak tentang keju silakan kunjungi situs resminya, cheese[dot]com.
Artikel diambil dari berbagai sumber.
Semoga bermanfaat!
.
Read more... Makanan sehat yang bernama Keju

Jumat, 05 Februari 2010

Film Nominasi Oscar - Children of heaven


Children of heaven, sungguh sebuah film bermutu dan bisa dinikmati oleh semua kalangan. Film Nominasi Oscar ini meraih penghargaan pada Montreal World Film Festival, Newport International Film Festival, dan Silver Screen Awards di Singapore International Film Festival.

Tak ada baku tembak, kejar-kejaran mobil lalu tergelincir dan meledak terbakar di jalan beraspal, juga suara mesiu ataupun ledakan bom dan tentu saja tidak mengenkspos kevulgaran pornografi di tayangan film Children of heaven ini seperti yang terjadi film layar lebar Indonesia pada akhir-akhir ini yang ramai diperbincangkan dan menjadi polemik banyak kalangan.

Belum sempat menikmati filmnya, di film layar lebar nasional kita akhir-akhir ini lebih cenderung menampilkan tema yang justru sudah membuat “ngeri” duluan dengan judulnya yang terkesan galak dan seronok. Seperti judul : Hantu puncak datang bulan, Kutang kuntilanak, Air terjun pengantin dan judul film lainnya yang sama sekali tidak bernuansa edukatif.

Fenomena ini menarik perhatian saya untuk mengulas tentang Children of heaven dalam postingan ini. Tetapi sebelumnya saya mohon maaf, karena mungkin ulasannya agak kepanjangan. :d

Film ini ini bersifat universal dan terkesan tidak menggurui siapapun karena didominasi oleh muatan ketabahan, kejujuran tanggung jawab, serta keperdulian.


Children of Heaven lebih banyak menfokuskan pada dunia anak-anak. Menurut saya film ini bisa menjadi inspirasi dan pembelajaran bagi pemerintah Indonesia khususnya stake holder yang menangani anak-anak jalanan maupun anak terlantar yang menjadi salah satu problem pelik di negara ini.
Lebih-lebih jika dikaitkan dengan terjadinya praktek mutilasi dan pemerkosaan biadab terhadap anak-anak. Padahal di UUD 1945 jelas , bahwa mereka dilindungi dan menjadi tanggungan negara.

Bila dicermati Children of Heaven adalah sebuah film drama rumah tangga biasa. Namun yang berbeda dari film garapan sutradara Iran terkemuka Madjid Madjidi ini, mampu membuat penonton terpukau, nyaris tak beringsut sedikitpun dari tempat duduk kita.

Tak hanya rasa iba dan kesedihan mendalam yang membuat penonton terenyuh menyaksikan sepasang bintang cilik ini beraksi. Namun keluguan dan kelucuanpun terkadang mampu membuat kita penonton tertawa terbahak-bahak.

Saat Anda menonton film ini, terkesan sederhana dan dapat diestimasi biaya pembuatannya film ini pun sangat murah dibandingkan kebanyakan film layar lebar Indonesia yang menghabiskan dana miliaran rupiah tetapi hanya mengumbar kekerasan, klenik dan seksual secara vulgar.

Sinopsis Singkat

Kisah film ini diawali dengan sosok bocah lelaki bernama Ali dan mempunyai adik perempuannya Zahra dan seorang lagi masih bayi.

Anak belasan tahun dari keluarga Karim ini hidupnya sangat sederhana yang tergolong keluarga miskin. Maklum, Karim ayahnya hanya seorang Marbot pengurus mesjid di tempat tinggalnya.
Kemiskinan itulah yang membuat titik persoalan di film yang berdurasi 88 menit.

Ali yang mendapat tugas dari sang ibu untuk membeli kentang di pasar, awalnya memperbaiki sepatu adiknya Zahra pada seorang tukang sol sepatu.
Saya teringat Tukang sol sepatu ini, dilihat dari penampilan serta peralatan yang dimilikinya, mirip sekali dengan Uba Jeno, tukang sol sepatu di kampung saya. Hehee....


Usai sepatu adiknya dijahit oleh tukang sol sepatu, lalu dibungkus pakai kantong plastik kresek dan meneruskan tugas dari ibundanya ke pasar sayur mayur.

Untuk memudahkan belanja yang dipesan ibunya Ali menaruh sepasang sepatu butut yang tadi di kantong plastik kresek ke sela-sela tumpukan kotak kayu di bawah sisa barang dagangan. Sialnya selanjutnya sepatu tersebut terbawa oleh tukang sampah yang membersihkan lingkungan kios-kios.

Tak heran, usai belanja kentang Ali tak menemukan sepatu adiknya yang disimpanya di sela-sela tumpukan kotak kayu dekat barang dagangan.
Kalang kabut Ali mencarinya. Ia pun mencoba mengendap-endap mencari sepatu itu, namun penjual sayur mayur didekatnya menjadi terganggu dan berang melihat Ali seolah-olah ingin mencuri barang dagangannya. Ali pun diusir dan dikejar sehingga Anak malang itu lari tunggang langgang.

Sesampainya di rumah Ali menjadi cemas dan pucat pasi. Berulang kali Zahra adiknya menanyakan sepatu yang diperbaiki, namun Ali tak bergeming.
Akhirnya dengan jujur ia katakan bahwa sepatunya hilang di pasar sayur. Saat itulah Zahra terlihat sangat sedih karena ia tidak memiliki sepatu lagi, karena memang hanya satu-satunya untuk Zahra ke sekolah.

Ali pun berusaha menghibur adiknya dengan memberikan pinsil kesukaannya. Bahkan Ali memberikan pulpen bagus yang ia dapat dari penghargaan atas prestasinya sebagai murid terpandai. Tentu saja dengan catatan agar Zahra tidak memberitahukan orang tuanya kalau ia tak memiliki sepatu lagi.

Yang menarik di film ini, Zahra bergantian memakai sepatu butut satu-satunya milik Ali. Kebetulan Zahra sekolah pagi sedangkan Ali masuk siang.
Di tengah jalan keduanya selalu memakai sepatu tersebut bergantian. Tidak jarang Ali sering terlambat masuk sekolah.
Celakanya, suatu hari sepatu yang dipakai Zahra jatuh di sebuah got berair mengalir deras. Dengan kalang kabut Zahra mengambil sepatu yang terbawa arus kali kecil. Namun beruntung masih ada orang yang mau menolong mengambilkan sepatu yang hanyut. Kendati akhirnya Zahra pulang kesiangan dan Ali terpaksa mendapat terguran keras di sekolah.

“Jangan sampai ayah tahu adikku, kita bergantian sepatu.”
“mengapa? Kan ayah bisa beli lagi?” usul Zahra.
“Jangan. Ayah kita tidak punya uang. Kita orang miskin. Kasihan ayah, sudah kerja keras tetapi tetap tidak punya uang. Apalagi adik kita masih bayi dan lagi sakit. Dia perlu berobat ke dokter.”
Ali bersusah payah meyakinkan adiknya agar tak perlu melaporkan pada ayah tentang sepatunya yang hilang.

Karim yang sebagai ayahnya Ali seorang marbot dan pekerja serabutan. Karim memang tidak mampu membahagiakan keluarganya. Namun sebagai seorang ayah dari tiga anaknya yang masih kecil Karim tetap semangat untuk bekerja.

Suatu ketika ia mengajak putranya Ali untuk melamar menjadi tukang kebun di kota dengan mengendarai sepeda butut keliling kota, di komplek perumahan elit. Lantaran digonggong anjing galak, keduanya harus lari tunggang langgang. Pada bagian ini banyak adegan lucu yang muncul. Sampai akhirnya Karim mendapat job sebagai tukang potong rumput dan menyirami kembang di sebuah rumah mewah.

Karim dan anak-anaknya Ali dan Zahra juga pernah melakoni memecah gumpalan gula putih untuk jamaah pengajian di masjid tempat tugasnya sebagai marbot.
Ketika Zahra membuatkan minuman-teh untuk ayahnya yang terasa kurang manis, dengan lugu Zahra mengatakan:

“Ayah tinggal mengambil gula di depan ayah.”

Namun hal itu tidak dilakukan oleh Karim, meskipun gumpalan gula yang dipecah-pecah untuk konsumsi jamaah pengajian, terlihat banyak di depannya.

“Itu milik masjid. Kita tidak boleh mengambilnya anakku” kata Karim dengan jujur.

Sebagai Muslim ia selalu berharap memakan makanan yang halal dari uang hasil kerjanya. Tak lebih, karena keberkahan seseorang hanya bisa diperoleh dari mendapatkan yang halal dari kerja keras, jujur dan tidak merugikan orang lain sesuai yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Film diakhiri dengan keikutsertaan Ali dalam lomba lari yang diadakan sekolahnya. Niat Ali mengikuti lomba itu tak lain ingin meraih juara ketiga dengan hadiah sepatu karet . Jika berhasil hadiah itu akan ia persembahkan buat adiknya tercinta Zahra.

Sayang seribu sayang Ali ternyata menjadi juara satu. Itu artinya ia mendapat hadiah sepasang sepatu olah raga laki-laki, bukan sepatu karet untuk wanita. Ali malah sedih, Ia merasa gagal membahagiakan Zahra .

Nilai apa yang dipetik dari film Children of heaven. Ada empat nilai yang dipetik dari film karya sineas
Iran ini. Pertama selalu melakukan kejujuran. Kedua selalu mencari penyelesaian masalah, ketiga selalu memikirkan orang lain dan keempat mencapai prestasi setinggi-tingginya.

Karena ini sinopsis singkat dan susah mendapatkan cd dan dvdnya, maka saya sarankan untuk mengobati penasaran anda dan menyimak children of heaven di video.google.com

Semoga film ini dapat menjadi pencerahan dan inspirasi bagi kita semua, amin...
Read more... Film Nominasi Oscar - Children of heaven

Kamis, 21 Januari 2010

Aku Merindumu Anakku...

Aku Merindumu Anakku, adalah moncong meriam yang mengarah pada diriku sendiri, Tetapi bagaimanapun kuledakkan jua, sebab pedihnya pasti merobek sombongku.

Mestinya aku tak di sini, menata huruf demi huruf menyusun kalimat-kalimat sunyi yang dingin dan kokoh. Bukankah celoteh, rengek, amarah dan manjamu lebih megah dan berharga dari apapun, hingga sanggup merontokkan pilar-pilar keangkuhan diri?

Betapa naifnya aku memilih benteng sepi ini, duduk di singgasana egoku seraya berkata, “Lihat, Ayahmu yang mabuk dunia sedang membangun istana buat raja yang dicintainya !”
Sementara di rumah kau menungguku berkaca-kaca di balik kaca jendela, “Kapan Ayah pulang Bunda?”

Aku Merindumu Anakku, adalah angin yang menampari mukaku sendiri, Tetapi, Bagaimanapun kutentang jua, Sebab perihnya pasti menelanjangi jiwaku.

Mestinya aku di rumah bersamamu, bermain perang-perangan, kuda-kudaan, main bola di taman kita, atau melukis di satu buku, seperti yang acap kita lakukan di sisa waktuku untukmu.
Itupun mesti kita lakukan seusai perdebatan panjang kita di atas ranjang peristirahataanku yang biasa kau akhiri dengan tangisan kesal atau sesalmu.

Lalu...

"Ayah jadi hutan, bunda jadi danau, aku jadi gunung, ya?” Katamu sambil menggerak-gerakkan tangan mungilmu membentuk hutan, danau dan gunung.
"Bunda jadi air kendi, dan aku jadi tempat untuk mengungsi, ya?”
“Ya, Nak!” Aku tersenyum sembari menghapus air mataku.

Aku Merindumu Anakku, adalah bunga, adalah pelangi, adalah matahari yang makin rindang tumbuh dalam imajinasiku. Jangan tinggalkan aku... Aku Merindumu Anakku ...

Terinspirasi dari Majalah Nyata edisi IV Mei 2008
Read more... Aku Merindumu Anakku...

Selasa, 19 Januari 2010

Gula gula gula gula gula (Glukosa)

Gula gula gula gula gula- Ini bukan judul sebuah lagu dangdut :)) tetapi memang secara serius membahas tentang gula. Heheee...
Sebagaimana kita ketahui selama ini, gula termasuk bahan makanan yang bermanfaat buat kesehatan untuk anti toksin yang sangat ampuh buat penyembuh luka.

Selain itu manfaat besar lainnya adalah sebagai penambah kalori sehingga tubuh dengan segera bisa terasa fit dan segar, terutama bagi kita yang sedang dalam masa penyembuhan dari penyakit.

Jenis-jenis gula bisa disimak sebagai berikut :

1. Palm Sugar

Palm Sugar sebetulnya sama seperti Gula Jawa biasa, terbuat dari Nira kelapa. Hanya saja pada pembuatannya dilakukan proses pemanasan lebih lanjut sehingga terjadi granulasi, menjadi seperti pasir. Rasanya persis gula jawa karena bahan utamanya sama, tapi bila pada gula jawa kita suka dapat "bonus" kembang Manggar (bunga kelapa), pada Gula Palm kita dapatkan gula yang bersih dari cemaran bahan-bahan lain. Hampir semua resep yang menggunakan Gula Jawa, dapat diganti dengan Palm Sugar ini. Palm Sugar dapat kita beli di pasar atau supermarket.

2. Brown Sugar

Brown Sugar, tidak dibuat dari Nira, tapi dari sari tebu yang biasa dipakai untuk membuat gula pasir. Hanya saja, pada proses pembuatannya, brown sugar masih kuat kandungan molasesnya, yaitu sari tetes tebu yang berwarna coklat dengan aroma khas. Brown Sugar banyak digunakan untuk membuat aneka kue dan minuman.
Brown Sugar biasanya dijual di toko bahan kue (TBK) atau supermarket besar.

3. Gula Pasir

Bila bentuk butirannya kasar, akan sulit larut dalam adonan. Kue yang dihasilkan jadi lebih keras dan kasar karena berpori-pori besar dan warnanya lebih cokelat dan rasanya lebih manis. Pilihlah gula pasir yang putih dan bersih
. 4. Gula Kastor (Castor Sugar)

Adalah gula pasir berbutir halus, warnanya putih dan rasanya tidak semanis gula pasir berbutir kasar. Sifatnya mudah larut dalam adonan hingga menghasilkan kue yang renyah, dan warnanya bagus.

5. Gula Bubuk (Icing Sugar)

Terbuat dari gula pasir yang dihaluskan, sehingga bentuknya seperti tepung. Sifatnya mudah larut dalam adonan. Membuat kue lebih garing dan renyah. Ayak terlebih dahulu sebelum dipakai, agar mudah menyatu dengan bahan lainnya. Gula bubuk mudah sekali menyerap udara, bila tidak ditutup rapat dan disimpan terlalu lama maka akan menggumpal dan keras.

6. Gula Merah

Orang sering menyebutnya Gula Jawa, gula ini terbuat dari Nira kelapa. Gula ini lebih sering dipakai pada masakan atau untuk membuat kinca.

***
Selain membantu penyebaran dan rekahan struktur kue, gula memperpanjang daya simpan karena bersifat menyerap air.
Gunakan gula sesuai ukuran resep. Gula menimbulkan reaksi pencoklatan (browning). Pemakaian gula berlebihan membuat bentuk kue melebar dan cepat gosong. Sedangkan kurang gula membuat kue kering berwarna pucat, matangnya lama dan aromanya kurang harum.

Mudah-mudahan bermanfaat!
.
Read more... Gula gula gula gula gula (Glukosa)