Selasa, 11 Agustus 2009

Fenomena Ke-Islaman Yvonne Ridley.

Sorry Visiters... Beberapa hari ini saya memang agak kurang mood untuk mendapatkan inspirasi bahan postingan.
Kali ini saya terinspirasi dari penangkapan “Terrorist” di Temanggung dan di Jati-asih Bekasi oleh Densus 88 yang saya hubungkan dengan pernyataan-pernyataan Yvonne Ridley.

Benarkah yang mereka tangkap adalah the real terrorist atau ada rakyat biasa yang tidak tahu menahu dan tidak ada hubungannya dengan terorist juga ikut-ikutan ditangkap?

Kemungkinan salah tangkap bukanlah suatu hal yang baru di beritakan. Kita telah mendengar kisah penangkapan orang-orang tak bersalah dan tidak memiliki hak untuk didampingi pengacara, dihadapkan oleh siksaan sangat keji, di penjara Guantanamo, Abu gharib dan lain-lainnya.

Salah satu korban yang mampu menghadapi siksaan berat dan melawan kezoliman yang disebabkan hanya karena dia seorang Perwira Muslim adalah gugatan Perwira Muslim USA yang bernama JAMES YEE yang sempat menjadi berita yang sensasional sehingga Presiden Obama langsung berinisiatif menutup penjara neraka itu. Kejadian ini Insya Allah akan dibahas dalam postingan mendatang.

Siapa wanita Mualaf yang bernama Yvone Ridley ?

Yvone Ridley
menjadi salah satu juru bicara pembela Islam di Inggris. Wanita tegar ini merasa mendapatkan anugrah terindah, saat beliau beralih memilih Islam sebagai ideologi yang sangat mencerahkan.

Lahir di Stanley, kota Durham Inggris 1959, seorang wartawati feminis Inggris yang pernah bekerja di Sunday express, sebuah koran terbitan Inggris. Kini Yvone menjadi salah satu juru bicara pembela Islam di Inggris.

Pada September 2001 lalu diselundupkan dari Pakistan ke Perbatasan Afghanistan untuk melakukan tugas jurnalistik. Namun penyamarannya terbongkar dan menjadi tawanan Pejuang Taliban yang pada akhirnya mengantarkan kepada hidayah Islam justru beberapa lama setelah dibebaskan Taliban.

Berikut ini adalah ceramah Yvone Ridley beberapa tahun lalu di Global Peace & Unity Conference, London tanggal 30 November 2006.

“Ke-Islaman saya masih amat belia, karena saya baru menjadi Muslimah pada 2003- dan meski masih banyak yang akan saya pelajari, saya dapat merasakan frustasi yang dirasakan oleh kalangan Muslim pada saat ini.
Saya tahu serangan 11 September berdampak luar biasa pada dunia. Tetapi itu bukan suatu awal, tu adalah lanjutan dari warisan imperalisme AS dan ketakutannya pada Islam.

Ketakutan pada Islam telah berkembang selama 10 tahun belakangan, sehingga darah saudara2 kami kini mengalir bagaikan sungai-sungai yang melintasi Chechnya, Kashmir, Palestina, Afghanistan, Iraq dan baru2 ini kita semua menyaksikan apa yang terjadi di Lebanon kemudian tragedi Gaza.

Saya pernah mendatangi banyak ladang-ladang pembantaian dan izinkan saya mengatakan pada anda bahwa tubuh2 rusak, meledak berkeping-keping dari saudara2 Muslim kami sama persis dengan tubuh yang tersebar pada hari ini sangat jelas: darah Muslim adalah komoditas murah,
Sementara itu, puluhan ribu Muslim tak bersalah masih disiksa di tempat-tempat terpencil seperti di Teluk Guantanamo, Bandara Bagram di Afghanistan, Abu gharib, Diego Garcia dan penjara2 rahasia di berbagai penjuru dunia.

Sementara di penjara-penjara bawah tanah Suriah, Yordania, Maroko, Tunisia, Argeria, Mesir, saudara2 kami disiksa atas pesanan AS dan saya yakin pemerintah Inggris tidak lama lagi akan dipermalukan karena keterlibatan mereka. Bahkan sampai sekarang masih ada 9 warga negara Inggris yang ditahan di Guantanamo. Orang2 Amerika tidak menginginkan mereka, tetapi pemerintah Inggris juga tidak mau menerima mereka.

Meskipun Departemen Luar Negeri memberikan berbagai dalih sebenarnya mereka hanya perlu menelepon untuk meminta pembebasan saudara kami itu.
Dan jangan berpikir hanya laki2 yang disekap dan disiksa_ Moazzam bisa mendengar jeritan seorang perempuan di sel penyiksaan di Afghanistan tempat dia ditahan Amerika.

Seyogyanya, penanganan dan penangkapan terroris di negara tercinta ini tidak hanya melibatkan Densus 88, walaupun kita tak bisa menafikkan kapabilitas dan prestasi mereka.
Penanganan terrorist harus melibatkan semua pihak, setidaknya terdapat posisi Humas yang bertugas melakukan Re-edukasi, Rehabilitasi, dan Public Relation untuk melayanan masyarakat dan keluarga korban.

Seperti kejadian baru-baru ini, ketika pihak keluarga berkeinginan mempertanyakan dan mengidentifikasi jenazah anaknya, pihak Densus 88 menjawab dengan sangat kaku bahkan tanpa ada jawaban yang tentu saja akan menimbulkan interpretasi dan asumsi bias yang justeru mengeruhkan suasana.
Wallahu'alam

(Dikutip dari berbagai sumber)
Read more... Fenomena Ke-Islaman Yvonne Ridley.