Kamis, 24 Desember 2009

Teddy Bear, Kerja Keras adalah Energi Kita


Tulisan ini dilombakan dalam Pertamina Blog Contest
Seo - Kerja Keras adalah Energi kita -



Tentu anda sangat familiar dengan boneka Teddy Bear. Di seluruh dunia, boneka ini begitu populer terutama dikalangan para ibu dan anak-anak.

Boneka Beruang yang bernama Teddy Bear tidak serta-merta langsung bisa familiar dan popular seperti sekarang ini, melainkan ada fakta historisnya.

Mau tau ceritanya ? Untuk menghibur diri sekaligus menghilangkan suntuk, saya jawab sendiri aja, mau, mau, mau... hehehee...


Suatu hari Presiden Amerika Serikat Theodore Roosevelt berkeinginan untuk pergi berburu di hutan. Menembak seekor hewan hutan buruan, tentu tidak mudah semudah sulap David Coperfield, “abdakadabraaa...” terus langsung muncul. Apalagi menangkapnya hidup-hidup. Kesulitan seperti ini, juga dialami oleh seorang Presiden USA.
Saat melihat kerepotan dan ketegangan di wajah Presiden ini yang agak kesal karena buruannya belum juga tampak, para pengawal kepresidenan Amerika Serikat pada waktu itu berusaha kerja keras dengan energi extra untuk mendapatkan dan menangkap seekor beruang hidup-hidup.

Walau berprinsip seperti PT. Pertamina Persero yang menyelenggarakan Pertamina Blog contest dengan Seo “Kerja Keras adalah Energi Kita”, tetap saja para hulu balang Sang Presiden masih kesulitan menangkap binatang buruannya.

Kerja keras yang menguras energi mereka, akhirnya membawa hasil dengan tertangkapnya seekor beruang.

Seekor beruang jantan yang malang dan kebagian “apes” itu mungkin sebelumnya tidak mendapat firasat apa-apa saat pengawal presiden menangkapnya tanpa izin resmi. “Eiih belagu... Pake firasat dan izin resmi sgala, hehee... Klo giliran apes ya apes aja coy...” (saya ngakak terpingkal-pingkal sendiri, wkaakak...wkaakk..)

Sudah tertangkap, sempat-sempatnya tuh beruang ngebacot kayak si Anggodo atau Robert Tantular, atau si bedebah oknum pejabat korup yang ikut menjarah uang rakyat.

Sorry... kita kembali ke inti ceritanya.
(dikutip sebagian dari penulis : Tegar Satria, Penerbit : Shira Media)

Prestasi para pengawal menangkap seekor beruang hidup-hidup dengan tujuan untuk diikat pada sebuah pohon sehingga membuat senang Sang Presiden dan dengan mudah langsung menembaknya, ternyata malah membuat seorang Theodore Roosevelt, Presiden USA pada saat itu, merespon kerja keras para pengawal secara tak terduga.

“Let him run away !” katanya dengan tegas.

Sang Presiden menyuruh mereka melepas ikatan kuat terhadap si beruang dan membiarkan tetap hidup bebas, dan selamatlah beruang yang tadinya an unlucky bear menjadi an lucky bear. Beruang jantan yang beruntung itu berhutang nyawa kepada Roosevelt.

Tipe Pemimpin Strategis dan visioner dengan tabiat sangat mulia, yang sungguh patut diteladani seperti Nabi Besar Muhammad Saw dan Para Sahabat Beliau ( Salamun 'alaika ya Rasulullah... ) juga tercermin pada seorang Nasrani seperti Theodore Roosevelt.
Seandainya para pemimpin dunia didominasi oleh sosok seperti orang ini, Subhanallah... betapa damainya dan indahnya dunia.

Kisah Presiden Amerika Serikat ini menjadi terkenal ketika dilaporkan di surat kabar dan digambar dalam bentuk kartun.

Seorang laki-laki bernama Morris Michtom memiliki toko permen dan alat-alat tulis. Istrinya yang bernama Rose kadang-kadang suka membuat boneka beruang kecil yang diletakkan di jendela toko mereka.
Morris melihat kartun beruang di koran dan mendapatkan ide. Dia minta istrinya membuat beberapa beruang khusus seperti yang ada dalam gambar kartun itu.

Lalu Morris menulis surat yang ditujukan ke gedung putih, menanyakan apakah beruang itu, boleh diberi nama seperti nama Presiden. Presiden membalas surat itu, “Saya pikir nama saya tidak begitu berharga dalam bisnis beruang, tetapi Anda boleh saja menggunakannya”.

Maka Morrist meletakkan boneka beruang-beruang baru itu di jendela tokonya, di sebelah gambar kartun.
Boneka itu dinamai dengan nama panggilan President Roosevelt, Teddy.
Jadilah sampai sekarang boneka beruang tersebut terkenal dengan nama “Teddy Bear” oleh seorang Morris Michtom beserta istrinya dengan motivasi kerja keras adalah energi kita.
Read more... Teddy Bear, Kerja Keras adalah Energi Kita

Senin, 14 Desember 2009

Refreshing dengan Bonsai Santigi (Pemphis Accidulla)


Banyak macam cara untuk menghindari kejenuhan alias suntuk. Apalagi teman-teman blogger yang salah satu rutinitasnya berhubungan dengan mencari inspirasi posting, blog walking, promosi blog dan lain-lain yang tentu saja tidak selamanya lagi mood atau stabil, pasti ada saja rasa bosannya.
Salah satu refreshing alternatif dengan memelihara tanaman Bonsai Santigi. Yang jelas bukan membonsai KPK atau Bank Century hehee... tapi justru membiasakan diri untuk hidup berbasis Konservasi (Ramah Lingkungan)
Ada banyak pohon yang bisa dibonsai, salah satunya Pohon Santigi. Di dunia bonsai, Santigi yang nama latinnya Phempis Accidula sangat terkenal dan dicari karena kriteria yang ada padanya sangat cocok dengan kriteria tanaman untuk di bonsai.
Kriteria-kriteria itu antara lain, berbatang keras sehingga mampu hidup puluhan bahkan ratusan tahun. Kriteria selanjutnya adalah tanaman ini mempunyai daun-daun yang kecil-kecil sehingga mendukung penampilan bonsai yang berumur tua dan mengalami treatment pengkerdilan. Kriteria lainnya adalah tanaman ini mempunyai tekstur kulit batang yang berkeropak-keropak atau pecah-pecah yang mengesankan keangkeran dan tua, walaupun pohon tersebut sebenarnya masih berumur muda.


Di pulau Jawa pohon ini namanya juga berlainan, di daerah pantai selatan Yogyakarta, orang menyebut pohon ini dengan nama Pohon Drini, sehingga ada pula bernama pulau Drini yang sudah tak ada pohonnya, ada pula yang menyebutnya kayu Kastigi atau Setigi. Sedangkan ditempat lain juga ada, misalnya didaerah pantai utara Jepara, pulau Karimun Jawa dan ada pula di ujung timur pulau Jawa di dalam areal Taman Nasional dan didaerah Indramayu Jawa Barat, sehingga disana terdapat kampung yang diberi nama Kampung Cantigi.

Konon pula kayu Pohon Santigi ini menurut kepercayaan orang-orang didaerah masing-masing mempunyai khasiat dan kegunaan yang berbeda-beda, di Jawa Tengah dan Yogyakarta kayu ini dicari karena dapat digunakan untuk kayu gagang keris karena kekerasan kayu ini, ada pula yang percaya kayu ini untuk menawarkan racun atau bisa apapun, dan juga digunakan untuk media alat pengurut badan manusia. Konon di Jawa Timur banyak juga yang menggunakan kayu ini untuk membuat tasbih, dan bahkan dijual sampai ke Mekkah. Pernah pula kayu ini ditelitioleh ilmuwan, bahwa dapat digunakan untuk penetralisir di tambak-tambak udang.

Ternyata dari berbagai sumber yang dapat dipercaya, pohon Sentigi yang ada di Pulau Sumbawa NTB yang tersebar di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Bima.
Di Kabupaten Bima sendiri, Santigi banyak didapati di Selat Sape (Bima Timur) yang merupakan perbatasan antara Propinsi NTB dan NTT.

Sudah sejak lama dari sekitar tahun 90an, sudah banyak yang diambil oleh para penghobi dan kolektor bonsai santigi yang berasal dari luar Pulau Sumbawa, bahkan di Jawa harganya yang sudah "jadi Bonsai" dan juara di kontes mencapai ratusan juta.
Walaupun begitu, sampai saat ini di Pulau Sumbawa terutama di Kabupaten Bima, masih terdapat banyak tanaman ini dan bahkan masih ada hutan santigi.

Anda ingin refreshing dan mengenalnya lebih jauh atau bahkan ingin mengoleksinya? Pasti seru... Dengan senang hati saya akan menjawab hal-hal yang berhubungan dengan Pohon/ Bonsai Santigi (Pemphis Accidulla).
Read more... Refreshing dengan Bonsai Santigi (Pemphis Accidulla)