Minggu, 10 Oktober 2010

Salaamun alaika wahai Kekasih Semesta

pedih telah termakan luka 
menggores abjad kelu termakhtub tubir air mata 
rikuh menjalani nasib 
tanpa sejumput kasih, menghilang berabad silam

Darah tak jemu menetes 
dari kelopak bunga merindu siraman Al-Kautsar 
Raga terpenuhi asa, mimpi bersua dengan kekasih 

Sementara... 
ketenangan tidak jua muncul 
semenjak Ghamata dijejak Cisneros 
yang tak pernah mencuci baju keuskupannya

Ababil itu tidak pernah turun lagi 
membawa kerak neraka 
membakar bebajuan sombong merajalela
angkara di setiap sudut 
dengan keringat mengelupas tubuh 
dari tubuh sang uskup 
ia telah mencoreng dinding-dinding masjid 
dan menukar namanya menjadi gereja. 

Salaamun'alaika  wahai Kekasih Semesta
kunikmati rindu ini, menggapai syafaatmu, 

*Sayyid Madani Syani
Read more... Salaamun alaika wahai Kekasih Semesta