Sabtu, 26 Juni 2010

Bank Syariah sebagai tata kelola ekonomi Ideal dunia Islam


Dunia Islam memiliki kekayaan yang memungkinkan untuk terus dikembangkan.
Selain kaya dalam bidang pertanian dan peternakan, Negara Islam juga mampu memproduksi minyak bumi 66% dari seluruh produksi dunia. Ladang minyak di Kuwait adalah yang terkaya dari seluruh ladang minyak dunia.
Dunia Islam memproduksi :
-         Karet alami 70% dari yang diproduksi dunia.
-         Jute (goniserat jute) 40% dari produksi dunia
-         Minyak kelapa 56% dari produksi dunia,
-         Rempah-rempah 67% dari produksi dunia.
-         Merica hitam 30% dari produksi dunia
-         Kina dan gabus, 90% produksi dunia.

Selain itu, beberapa Negara Islam memiliki persediaan gas alam dan sejumlah besar hasil tambang seperti besi, tembaga, timah dan boksit.
Boksit dan timah banyak terdapat di kawasan Indonesia dan  Malaysia. Sementara di Benua Afrika  terdapat sejumlah hasil tambang  seperti Mangaan, fosfat, chrom, gips (kapur batu), batu bara dan uranium, yang sangat bermanfaat dan berharga untuk produksi batere. 

Potensi tersebut di atas, perlu tata kelola yang ideal dan professional. Instrumen penting dalam pengelolaannya yang ideal adalah dengan institusi perbankan syariah.

Walaupun dirasa terlambat, telah tumbuh kesadaran akan pentingnya tata kelola ekonomi di lingkungan dunia Islam, dengan diterapkannya profit and loss sharing (bagi hasil keuntungan dan kerugian) terhadap penggelolaan dana ibadah haji dengan sistim bagi hasil yang untuk pertama kalinya diterapkan pada tahun 1943 di Malaysia dan Pakistan.

Terinspirasi oleh penerapan sistim bagi hasil tersebut, maka berdirilah Mith Gharm Bank di Kairo Mesir pada tahun 1963 yang merupakan Bank Syariah pertama di dunia
Selanjutnya lembaga perbankan syariah ini mulai berkembang  dengan berdirinya Bank Syariah di berbagai Negara Islam yang  diurutkan sebagai berikut :

  1. Islamic Development Bank (IDB) di Jeddah tahun 1975.
  2. Dubai Islamic Bank tahun 1975 di Dubai
  3. Kuwait Finance House tahun 1977 di Kuwait
  4. Islamic Faisal Bank tahun 1978 di Mesir dan Sudan
  5. Jordan Islamic Bank tahun 1978 di Yordania
  6. Bahrain Islamic Bank tahun 1978 di Bahrain.


Bagaimana dengan Indonesia ?

Seperti biasanya, Indonesia sangat hati-hati mengadopsi hal yang dianggap baru.dengan terlebih dahulu menguras energi dengan semiloka, seminar, diskusi dan semacamnya lewat perdebatan yang alot.

Baru pada 4 mei 1992 mulai beroperasi Bank Syariah yang dinamai Bank Muamalat Indonesia setelah Pemerintah Indonesia memperbolehkan bank dengan sistim bagi hasil beroperasi. Bisa dibayangkan bila kita memulainya hampir sama dengan Malaysia, tentu akan mengalami kemajuan yang luar biasa. Karena sosialisasi dan awarness yang lebih dini  akan membentuk mindset syariah yang membuahkan animo, kesadaran tinggi, berkah, serta manfaat yang halal dalam melangsungkan kegiatan ekonomi melalui perbankan syariah.

Yang saya ingin katakan adalah jika sosialisasi dilakukan lebih dini sejak sekitar tahun 70an seperti Malaysia dengan dukungan kebijakan regulasi dari pemerintah dan stake holdernya, maka tidak sesusah sekarang untuk mengalihkan mindset dan pilihan  masyarakat Indonesia yang sudah “terlanjur nyaman” dengan Bank konvesional daripada melakukan kegiatan financial melalui Bank Syariah.

Tetapi tidak ada kata terlambat buat sebuah perubahan. Secara kasat mata bisa kita lihat betapa Bank syariah  mampu menunjukkan identitasnya, eksistensinya dan keperkasaannya saat bank-bank lain mengalami krisis, Bank syariah mampu survive tanpa terpengaruh oleh goncangan kapitalisme yang sebelumnya sangat dipuja-puji dan dijunjung tinggi oleh para “penyembahnya”.

Eksistensi Bank Syariah yang sebelumnya dipandang sebelah mata, pada tahun 1998 Pemerintah memperbolehkan bank konvesional untuk membuka bank syariah.
Tahun 1999 mulailah perkembangan pesat dengan munculnya Bank BNI Syariah, BRI Syariah, Danamon Syariah, BII Syariah, Bukopin Syariah, HSBC Amanah Syariah dan lain-lainnya.


Allah pemilik hakiki, manusia pemegang amanat

Banyak orang yang menyangka bahwa agama tidak memperhatikan masalah ekonomi. Mereka mengatakan bahwa agama anti ekonomi yang selamanya tidak akan nyambung. Ekonomi memperhatikan segi material sedangkan dalam kehidupan agama hanya memperhatikan segi spiritual. Ekonomi tenggelam dalam Materi sedangkan Agama akan menjauhinya.

Islam tidak membenarkan asumsi tersebut, karena dengan tegas dalam Alqur’an, 4 :5 dijelaskan :

“Dan janganlah kamu serahkan harta kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya. Karena harta yang dijadikan Allah adalah sebagai pokok kehidupan.” 

Hadits yang diriwayatkan dari Al-Masih AS, Rasulullah bersabda :
“Sebaik-baiknya harta yang baik adalah berada pada seorang yang shaleh.”

Salah satu rukun Islam adalah ibadah financial yaitu zakat dan salah satu perusak financial menurut Islam adalah riba.

Islam sangat menekankan pekerjaan pertukangan. Alqur’an memberikan perumpamaan kepada kita dengan mengetengahkan beberapa Nabi dan orang-orang shaleh.

Nabi Nuh adalah pakar dan ahli pertukangan kayu sehingga mampu membuat perahu. Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail adalah ahli dalam bidang arsitek karena mampu meninggikan Ka’bah Baitullah. Nabi Daud adalah Ahli dalam mendesign baja dan besi, sehingga dapat membuat baju besi yang rapid an kuat. Sedangkan Dzulkarnain adalah ahli kontruksi yang telah mampu membangun dinding raksasa dari potongan besi dan cairan tembaga.

Islam juga menyeru kita untuk ahli dalam bidang pertanian dan penghijauan dengan syarat jangan sampai merusak dan melalaikan kewajiban sehingga Islam lebih mengutamakan membajak sawah daripada pergi berjihad.

Islam juga menganjurkan berniaga dan sangat menghargai  pengusaha dan pedagang yang jujur dan dapat dipercaya. Islam melarang curang, mempermainkan harga dan menimbun barang-barang dagangan untuk dikeluarkan pada saat orang tidak mempunyai barang tersebut .

Islam telah menentukan tata ekonomi berdasarkan pada ketetapan hak milik individu, karena dalam hal ini dorongan insting dalam diri manusia dapat terpenuhi dan mampu membuahkan perasaan  sebagai pengusaha barang yang ia miliki.
Seorang tuan mempunyai hak milik dan hak untuk menggunakannya sedangkan sahaya tidak memilikinya.

Tetapi Islam telah menetapkan peraturan untuk mendapatkan hak milik, batasan untuk mengembangkannya termasuk hak-hak periodik dan hak-hak konstan.

Sebelum itu semua Islam telah memperingatkan bahwa pemilik hak hakiki untuk semua harta adalah Allah SWT, sedangkan manusia adalah Mustakhlifina fihi (pemegang amanat atau perwakilan untuk mengelolanya).

Tumpas Riba dengan Bank Syariah. Bravo Bank Syariah !.
Read more... Bank Syariah sebagai tata kelola ekonomi Ideal dunia Islam

Sabtu, 19 Juni 2010

Virus Kesuksesan

Virus Kesuksesan- telah menjangkiti manusia di muka bumi, sehingga orang-orang berlomba mengejarnya. Sukses diinterpretasikan bahwa manusia akan terasa berharga, terhormat, pintar dan bermartabat.

Buku-buku, artikel, bisnis online seputar “Bagaimana menjadi orang sukses?” laku keras bak kacang goreng. Begitu juga dengan seminar dan  pelatihan tentang topik yang satu ini, sangat gencar diselenggarakan di berbagai tempat.

Bahkan karena virus sukses inilah seorang motivator beken Andrie Wongso dengan mottonya , “Succes is my right” (sukses adalah hak saya) dalam bukunya berjudul Kalau mau kaya ngapain sekolah (Edy Zaqeus 2004 : 43) sangat rajin memberikan ceramah dimana-mana.

Sah-sah saja jika sodara-sodari blogger menuduh saya mengkritik buku-buku itu, gara-gara diri saya sendiri belum sukses. Ckkk…ckkkk… Kalau Andrie Wongso dan yang lainnya mengatakan kesuksesan adalah haknya, maka saya juga punya hak untuk mengkritiknya.

Kembali lagi ke topic awal !
Sesuatu yang berbau sukses dikemas sedemikian rupa menjadi sesuatu yang harus dikejar dan dicari-cari. Suksespun akhirnya menjadi barang dagangan yang diberhalakan.

Buku Essential Frankfurt School Reader,  dari Filsuf kontemporer bernama Herbert Marcuse menyebutnya dengan commodity fetishism atau pemberhalaan komoditas.

Maka jadilah sukses itu “tuhan baru” di segenap hati orang yang memimpikannya. Siapapun yang tidak bersedia menyembahnya maka dia dianggap menyimpang, primitive, bodoh dan semacamnya.

Hakekatnya yang kita cari dalam kesuksesan adalah kebahagiaan. Maka pertanyaannya, Apakah menjadi orang bahagia harus terlebih dahulu menjadi orang sukses
Sebagaimana yang telah dikonstruksi oleh manusia modern abad ini, sukses itu harus menjadi atasan, punya mobil sendiri, kerja di ruang ber AC, pandai berbahasa Inggris, bergelar macam-macam, makan di kafe elit atau di restaurant bergengsi, punya apartement dan lain-lainnya.

Kita berharap akan bahagia bila sukses ada di genggaman kita. Benarkah ? Ternyata tidak. Tengok saja orang-orang yang katanya sudah sukses itu berbondong-bondong mengikuti majelis-majelis zikir yang diadakan oleh Ustadz Arifin Ilham, Aa Gym dengan manajemen qolbunya, Ary Ginanjar Agustin dengan ESQ serta majelis-majelis lainnya.

Atau lihatlah betapa banyak orang yang katanya sukses ternyata merana dan menderita hatinya ketika menjalani hidup keseharian. Tragisnya banyak yang akhirnya mengakhiri nyawanya sendiri.
Atau tengoklah kasus Ariel, Luna Maya, dan Cut Tary. Mereka dianggap sukses dengan profesinya sebagai artis/actor, presenter dan model papan atas. Tetapi apa yang terjadi dengan mereka sekarang setelah mencuat skandal video mesum Ariel, Luna Maya, dan Cut Tary. Apakah sekarang mereka bahagia dengan kesuksesannya ?

Fenomena seperti inilah yang dikatakan oleh seorang pakar dan dokter psikologi pendidikan, Paul Pearsall  dengan istilah toxic success atau sukses beracun. Sukses yang ternyata tidak dapat membeli kebahagiaan. Gejala inilah yang sekarang banyak menyebar di dunia modern tetapi malah dianggap sesuatu yang normal-normal saja.

Sukses beracun, justru banyak diburu. Bahkan untuk mencapainya, banyak orang yang harus kehilangan waktu untuk keluarganya, kerabatnya dan yang lebih sering adalah kehilangan waktu untuk Tuhan Yang Menciptakan Kesuksesan itu sendiri.

Pasalnya, kesuksesan sudah disembah yang berakibat mengorbankan banyak hal di kehidupan kita. Kesuksesan sudah terlanjur ditafsirkan dengan ukuran yang begitu kasat mata (lahiriyah) yakni yang berlambang jabatan, kemakmuran, dan kekayaan.

Prof. Dr. Tharik M. Suwaidan dalam bukunya Sukses tanpa batas— Sukses adalah sesuatu yang tidak kasat mata, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tidak terkandung dalam keaneka ragaman kekayaan, tidak juga bisa dibeli dengan harta benda.
Kesuksesan itu bersifat internal dan terdapat dalam relung hati manusia.

Boleh jadi yang mendapatkan kesuksesan itu adalah yang cukup puas asal bisa hidup  mandiri, tidak menjadi parasit, dan bisa berekspresi secara merdeka.
Ukuran kesuksesan bukan pada posisi jabatan yang kita miliki melainkan pada seberapa bagus kita menjalani pekerjaan amaliah kita, bagaimana melaksanakan ikhtiar  di atas rel yang positif  dan dapat mensyukuri apa yang dimiliki. Wallahu’alam  bil shawab

Good bye toxic success !

Disadur dari berbagai sumber.
Read more... Virus Kesuksesan

Rabu, 16 Juni 2010

Masjid simbol sekuler dan gedung pencakar langit simbol agama ?

Jangan mengerutkan dahi dulu, apalagi menuduh saya golongan penganut aliran sesat atau semacamnya. Heheee :) Silakan sodara sodari simak ulasannya !

Nabi Besar Muhammad Saw pernah bersabda tentang sebagian dari tanda-tanda kiamat. Dalam Hadits riwayat Imam Bukhari, beliau mengatakan bahwa :

"Kiamat Tidak akan terjadi sebelum terdapat kejadian-kejaidan sebagai berikut :

1. Manusia berlomba-lomba meninggikan gedung-gedung
2. Terdapat dua golongan besar berperang hebat, padahal keyakinan keduanya sama 
3. Dicabutnya ilmu, banyak gempa, waktu terasa saling berdekatan 
4. Banyak terjadi huru hara dan pembunuhan.

    Menurut hadist di atas, salah satu tanda kiamat adalah ketika gedung-gedung pencakar langit banyak dibangun. Bukan untuk kebaikan orang banyak melainkan untuk sekelompok orang.

    Semakin banyak pekerja kantoran, semakin banyak pula pengangguran. Semakin banyak jalan dibuat tetapi kian banyak juga kendaraan yang bertabrakan.

    Jelas, bukan terletak pada faktor teknis, tetapi non teknis; moralitas kita yang semakin rendah. Era globalisasi ternyata bukan sebuah solusi yang baik melainkan menimbulkan banyak persoalan baru terutama bagi orang-orang miskin. Cukup Banyak paradoks/pertentangan yang terjadi di abad sekarang ini.
    Repotnya, dengan berbagai cara, hanya karena persoalan seperti iri hati dan gengsi. Melihat teman kita bisa membangun gedung bertingkat dua, kita ingin membangun gedung bertingkat tiga, tingkat empat dan seterusnya. Jadi gedung dibangun bukan dilandasi oleh niat tulus karena fungsinya melainkan karena perasaan gengsi.

    Hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Anas, Nabi Muhammad Saw pernah memperingatkan kepada orang-orang kaya :

    "Barang siapa membangun gedung lebih dari sepuluh meter, ia akan mendengar seruan dari langit, Hai musuh Allah! Mau kemana engkau dengan gedungmu itu?"

    Tentu saja, maksud Nabi bukan melarang kita membangun gedung tinggi, tetapi lebih terfokus pada peran, fungsi dan asal muasalnya. Gedung tingkat satu saja, jika didirikan hanya untuk merusak orang lain, maka akan tetap dilaknat Allah SWT. Apalagi keberadaan gedung tersebut terlebih dahulu harus membongkar masjid atau rumah orang lemah secara paksa.

    Sampai tanggal 24 April 2000, belum ada gedung pencakar langit di negeri gurun timur tengah. Tepat sehari setelah itu berdirilah gedung tertinggi di Najd bernama Fisaliah Building dengan ketinggian 269 meter. Bahkan tiga tahun kemudian di Riyadh berdiri gedung yang lebih tinggi dengan nama Kingdom Center yang mencapai 300 meter.

    Subhanallah, ternyata prediksi Nabi Muhammad,Saw 14 abad yang lalu kini telah terbukti. Orang-orang gurun sudah mulai berlomba-lomba mendirikan gedung pencakar langit. Mereka semakin jauh dari peringatam Nabinya.Iman mereka sekarang dalam kondisi terpuruk.
    Kebanyakan dari mereka sibuk memperkaya diri dengan gaya hidup yang telah dikontaminasi oleh peradaban barat. Bagaimanapun caranya, Berapapun harganya yang paling penting adalah imeg dan gengsi bahwa sesungguhnya mereka telah kaya raya.

    Solidaritas mereka terhadap keadaan saudaranya yang sangat memilukan di Gaza dan Palestina menjadi teralihkan oleh kesibukan mereka terhadap gengsi dan prestisenya yang telah ditanamkan oleh konspirasi Amerika dan sekutunya Zionis Israel, sehingga permasalahan Palestina tidak akan pernah selesai sampai akhir zaman.

    Konsepsi sukses seseorang terkadang dilihat pada apa yang dimiliki secara fisik; motor, mobil, rumah, gedung bertingkat pesawat dan lainnya. Padahal saudara kita yang hidup di pedesaan tanpa kendaraan bermotor sekalipun, bila hatinya bersih dan mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT maka dapat dianggap orang yang sangat sukses dalam hidupnya.


    Pilihannya Masjid atau Gedung bertingkat?

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut setidaknya ada beberapa alasan untuk menjawabnya.
    Pertama, jika digunakan hanya sebagai gagah-gagahan saja sebaiknya jangan dilakukan, bila membangun masjid hanya pamer karena melihat masjid di desa tetangganya lebih bagus. Apa bedanya dengan membangun gedung bila tujuannya hanya untuk pamer ?

    Kedua, Sah-sah saja jika maksudnya untuk dakwah dan syiar. Semakin banyaknya masjid diharapkan kian banyak pula umat Islam berbondong-bondong datang untuk beribadah. Allah berfirman "Fastabiq al-khairat" (Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan)
    Jadi, membangun gedung atau masjid nilainya sama saja, tergantung sejauh mana fungsinya, bukan fisiknya.

    Masjid adalah simbol agama, sementara gedung adalah simbol sekuler. Tetapi fungsi natural itu bisa berubah menjadi kebalikannya. Masjid adalah simbol sekuler, gedung adalah simbol agama. Jika fungsi sebenarnya dari kedua unsur tersebut tidak maksimal apalagi bila digunakan hanya sebagai pameran atau sebagai benda artistik semata.

    Maksud sabda Nabi bahwa salah satu tanda kiamat adalah ketika orang beramai-ramai membangun gedung, yaitu bukan dari fisiknya semata, tetapi makna yang tersembunyi di dalamnya dilatar belakangi oleh perampasan hak-hak orang miskin dengan menggusurnya atau hanya untuk melibas pengusaha kecil saja.

    Bila hal ini tetap dilakukan, maka tunggu saatnyakiamat besar itu akan tiba. Mudah-mudahan kita bukan termasuk di antara orang-orang yang akan melihat kedahsyatan kiamat kelak, Amin...)*



    )*Disadur dari berbagai sumber
    Read more... Masjid simbol sekuler dan gedung pencakar langit simbol agama ?

    Selasa, 08 Juni 2010

    Puisi Milad Tiga Tahun Gaelby


    Ayahmu bukanlah peraya ulang tahun.
    Tetapi puisi acak ini, harus kucurahkan jua
    Tepat tahun ketigamu hadir ke dunia.
    Karena kau semata wayangku, maka kaulah Matahariku.
    Terbitmu adalah energiku
    Tenggelammu adalah laraku

    Kau milik zamanmu anakku,
    Maka bersiaplah!
    Buaian ayah bundamu hanya sementara
    Selanjutnya kertas dan pena
    Kau hadirkan pada semesta
    Keilmuan seluas samudra
    Hadirkan cahaya, sibak gulita
    Kau tembus bumi, merobek angkasa

    Kau milik zamanmu, sewayangku
    Maka bersiagalah !
    Rengkuhlah cakrawala
    Pelukan ayah bundamu hanya sementara
    Selanjutnya keringat dan air mata
    Kau suguhkan pada mereka
    Hujjah dan qoulan syadida
    Datangkan haq, dan kebatilan lenyap tak bersisa
    Hingga kau diterima dalam ridho-Nya

    Bintang mana yang ingin kau petik anakku?
    Semasih pijarannya tak redup,  kubantu memetiknya
    Semasih urat nadiku berdetak, kubantu menggapainya 
    Ayahmu bukan peramal, tapi lumayan hebat sebagai pendidik
    Biar kususun manjamu dengan apik
    Hingga kau tak menjadi cengeng, melainkan petarung yang baik
    Ayahmu bukan pemikul beban yang terpaksa
    Tetapi aku penggembala penuh cinta
    Dan padaku Tuhan memberi amanah istimewa
    Menitipkanmu, untuk menjadi belahan jiwaku.

    NB : Insya Allah, Puisi ini adalah salah satu Wasiat Ayahmu, untuk enkau teruskan ke anak cucumu kelak.


    Read more... Puisi Milad Tiga Tahun Gaelby

    Minggu, 06 Juni 2010

    Hakikat Cinta adalah Memberi

    Cinta- itu indah, karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yang luas. Inti pekerjaanya adalah MEMBERI.
    Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang dicintai sehingga tumbuh menjadi kebahagiaan.

    Pecinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka, yaitu Memberi. Give again and again.

    Bagaimana dengan menerima?

    Menerima adalah efek dari yang diberikan. Seperti cermin, kebaikan akan memantulkan kebaikan yang sama, karena pada hakikatnya, setiap kebaikan yang kita perbuat akan mengajak kebaikan yang lain untuk melakukannya.

    Itulah sebabnya, terjadi perbedaan yang jelas antara pencinta sejati dan pencinta palsu. Kalau kita mencintai seseorang dengan tulus, ukurannya adalah ketulusan dan kesejatian yang kita berikan untuk membuat kehidupan bertahan dan lebih baik.

    Maka kita akan menjadi Matahari dan Air. Cinta tumbuh dan berkembang karena siraman airmu, dan ia besar dan berbuah dari pancaran sinarmu.

    Pecinta sejati- tidak suka berjanji. Tetapi begitu ia memutuskan untuk mencintai seseorang, Ia akan segera merancang sebuat planning untuk memberi. Setelah itu ia bekerja dalam diam dan sunyi untuk mewujudkan rencana memberinya.

    Setiap satu rencana terealisasi, setiap itu pula satu bibit cinta muncul bersemi. Hakikat CInta adalah Memberi. Janji hanya menerbitkan harapan, tetapi pemberian justru akan melahirkan kepercayaan.

    Yang lebih dahsyat, rencana memberi yang terus terealisasi akan melahirkan ketergantungan yang produktif yang menghidupkan. Tentu saja ini sangat positif. Seperti pohon yang tergantung dari siraman air dan sinar matahari.

    Cinta- adalah cerita tentang seni menghidupkan hidup. Ia menciptakan kehidupan bagi orang-orang hidup.
    Karena kehidupan yang dibangun oleh pemberi cinta, seringkali tidak disadari oleh orang yang menikmatinya.


    Tetapi bila sang pemberi pergi, tiba-tiba seperti ada ruang besar yang kosong tak berpenghuni. Tiba-tiba ada kehidupan yang terasa hilang. Mereka segera akan merasakan kehilangan yang menyayat hati. Sang pemberi itulah Pecinta Sejati.
    Read more... Hakikat Cinta adalah Memberi