Minggu, 17 Juli 2011

Pendidikan Agama di Sekolah tidak efektif bahkan 'gagal'?

Pendidikan agama saat ini cenderung mengedepankan aspek kognisi (pemikiran) daripada afeksi (rasa) dan prikomotorik (tingkah laku). Padahal pendidikan agama seharusnya diberikan dengan cara yang menyenangkan. Pendidikan agama terlalu berat muatannya pada keshalehan ritual individu dan belum menyentuh kepada keshalehan sosial  dan ahlak antara sesama. Meminjam sebuah anekdot di sebuah stasiun Tv, kurikulum sekarang bukan KTSP lagi, tapi balik lagi ke KBK (Kurikulum Berbasis Kebanyakan) Hee..hee... hee :))
   
Berdasarkan hasil studi Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI tahun 2000 disimpulkan bahwa, merosotnya moral dan ahlak peserta didik disebabkan antara lain akibat kurikulum pendidikan agama yang terlampau padat materi. Materi tersebut lebih mengedepankan aspek pemikiran ketimbang membangun kesadaran beragama yang utuh.

Disimpulkan pula bahwa metodologi pendidikan agama kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan serta terbatasnya bahan bacaan  keagamaan dan minimnya minat membaca bacaan keagamaan. Buku-buku paket pendidikan agama saat ini belum memadai untuk membangun kesadaran beragama, memberikan keterampilan fungsional keagamaan dan mendorong perilaku bermoral dan berahlak mulia pada peserta didik 

Kini Kesimpulan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI tahun 2000 itu sudah sudah 11 (sebelas) tahun berlalu. Adakah hasil berupa perubahan substantif dari kesimpulan Litbang tersebut? Berhasilkan upaya Pemerintah cq. Departemen Agama RI dan Departemen Pendidikan Nasional RI menjadikan pendidikan agama di sekolah-sekolah efektif dan berdaya guna untuk mengatasi merosotnya ahlak dan moral peserta didik?

Kenyataanya, meski pendidikan agama telah diajarkan dan ada sedikit perubahan kebijakan dalam kurikulum  sekolah, tetap saja masih semakin banyak anak ataupun peserta didik yang lebih nyaman mencari jati diri melalui narkoba, sex bebas, tawuran dan bahkan menjadi 'teroris'.
Adalah ironis bahwa Indonesia adalah negara beragama yang menekankan pendidikan agama dalam sistem pendidikannya, tetapi masuk dalam 'prestasi' dan kategori negara terkorup di dunia.

Para pemimpin kita tak diragukan lagi pemahamannya terhadap nilai-nilai agama tetapi perilaku yang ditunjukkan sangat jauh menyimpang dari nilai-nilai yang dicita-citakan bangsa ini. Beberapa kalangan menilai bahwa kegagalan pengajaran agama  membentuk moral Indonesia adalah karena agama yang diajarkan dalam lembaga pendidikan saat ini, jauh dari substansi yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Agama lebih banyak dipolitisasi sebagai alat melegitimasi kekuasaan lewat nilai-nilai keagamaan. 

Anggapan ini barangkali tak lebih dari ungkapan frustasi melihat fenomena degradasi moral anak bangsa serta melihat realitas dari para oknum pemimpin bangsa dan stake holder pendidikan yang menyimpang dari nilai-nilai agama yang mereka dengungkan sendiri tanpa aplikasi dan tauladan yang diharapkan rakyat. 
Betapa tidak, cobalah berkaca pada negara lain yang lebih sekular tapi ternyata tata kehidupan mereka dalam beberapa aspek lebih bersih dan lebih beretika.

Masalah moralitas dan etika seyogyanya bukan hanya termuat pada pelajaran agama saja tetapi pada semua mata pelajaran, sehingga terjadi integrasi antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Peran keluarga dan lingkungan masyarakat menjadi faktor yang tidak kalah dominan. Pada akhirnya pendidikan agama harus menjadi tanggung jawab semua elemen, keluarga, pemerintah dan masyarakat.
Sudah saatnya lembaga pendidikan menjadi sebuah lembaga yang membebaskan anak bangsa dan masyarakat dari sistem yang menindas, membebaskan peserta didik dari doktrin yang justru mencerabut dirinya dari realitas.
Dalam konteks ini tidak ada  niat dan upaya sedikitpun untuk  merendahkan peran dan posisi agama dalam kehidupan masyarakat, tetapi paling tidak menggugah kita untuk merefleksikan kembali apa yang kita harapkan dari apa yang kita dapatkan dari pembelajaran agama  selama ini, dan pada gilirannya nanti kita dapat menimbang apakah pendidikan agama di sekolah sejauh ini sudah efektif ? Wallahu a'lam.

12 komentar:

  1. Perlu ada peningkatn jam pelajrn agama serta pengaplikasian. Butuh perombakan kurikulum mungkin.

    Indonesia hari ini akn hancur jika melupakn agama.

    BalasHapus
  2. moga pengajar agama semakin kreatif dalam menciptakan pendidikan dalam hal beragama^^

    BalasHapus
  3. kadang mungkin bukan hanya sekedar pembelajaran teori.. praktek dan pengamalan lebih penting juga kalo urusan agama, dan yang paling penting itu juga peran orang tua. percuma kalo di sekolahan cuman hafalan untuk dapet nilai bagus, kalo dirumah prakteknya juga nggak bener..

    BalasHapus
  4. kebanyakn ni ...pelajaran agama baik resmi sekolah maupun taudziah ya menakut nakuti surga dan neraka..hehehhee..ga kembali ke khitah dan pedoman awal, spt Al fathihah dan kebaikan kpd sesama. Cak Nun pernah bilang, jika mau jumatan atau menolong orang kecelakaan, maka dia pilih nolon orang kecelakaan. Itulah surga...bukankah Allah Swt itu tdk berkepentingan dgn manusia? Tetapi manusialah yang berkepentingan pada Nya. Maka amal yg utama..hasyah malah ceramah..hahahaha

    BalasHapus
  5. bukan cuma mata pelajaran agama yang gagal, semuanya juga dah gagal dari jaman dulu

    BalasHapus
  6. yang jelas butuh keteladanan bukan cuma pelajaran
    gimana anak bisa tertarik dengan keagamaan
    bila petinggi agama juga bertingkahlaku seenaknya
    masuk ke ranah politik dsb...

    BalasHapus
  7. hmm mungkin teori dan materi agama di sekolah, bisa di barengi dengan pengawasan orang tua. jadi anak2nya ga melenceng. soalnya dulu ortu saya jg sangat mengawasi anak2nya dalam aplikasi agama dlm kehidupan sehari2

    BalasHapus
  8. Assalamu'alaikum Sodaraku,
    Menyadari kemerosotan moral yang makin tak terbendung dari perilaku pemimpin yang tidak menjalankan amanah dengan baik bahkan cenderung mengingkarinya, maka tonggak bendera utama adalah dari pendidikan keluarga.

    Sekolah hanya memberikan jatah pelajaran agama tidak lebih dari 2 ato 4 jam, yang semuanya cenderung pembelajaran teoritis.

    Maka dengan memulai dari lingkup terkecil kelurga, yang tentunya dengan keteladanan dan istiqomah dari orang tua, maka praktek langsung pendidikan agama akan memberikan nilai yang bermakna dan membentengi anak-anak kita dengan perisai yang lebih baik, Insya Alloh.

    Jadi saya setuju kalo pendidikan Agama di sekolah perlu ditinjau ulang efektifitasnya

    BalasHapus
  9. pendidikan agama disekolah hanyalah.. tambahan bagi si anak.. yang terpenting adalah pendidikan dalam keluarga saya setuja dengan pakdhe ies...

    BalasHapus
  10. sepertinya memang iya
    karena banyak guru agama yang tidak kapabel

    BalasHapus
  11. kegagalan pendidikan agama, menurut pakde justru terletak pada orang tua, karena orang tua adalah contoh nyata, sejak kecil hingga beranjak dewasa, jika orang tua tidak bisa mengarahkan anaknya ke arah yang benar jangan harap memperoleh hasil yang maksimal

    BalasHapus
  12. saya manggut-manggut aja deh hahaha emang bener juga sih hmmm

    BalasHapus