Sabtu, 04 Juli 2009

Rusli Zainal Sang Visioner, Model Kepemimpinan Membangun Kabupaten Bima

Rusli Zainal Sang Visioner - sebagai tipe pemimpin yang dapat menerapkan pemerintahan yang good governance terutama dalam menerapkan master planning sekaligus mengaplikasikan perencanaan pembangunan jangka pendek dan jangka menengah serta akan mampu diaplikasikan dalam rencana jangka panjang, dalam memimpin Riau, baik pada saat beliau menjadi bupati maupun sebagai Gubernur Riau periode 2009-2011.

Beliau merupakan sosok pemimpin yang tepat untuk diikuti sepak terjangnya oleh para gubernur dan bupati di seluruh indonesia, terutama bagi pimpinan daerah Nusa Tenggara Barat sebagai propinsi dan daerah yang memiliki potensi Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia yang luar biasa, terutama jika model kepemimpinan tersebut diterapkan juga oleh Bupati Kabupaten Bima H. Fery Zulkarnain, ST. yang sekarang memimpin Bima dianggap baik, maka harus ditingkatkan menjadi lebih baik dalam melakukan optimalisasi menunjang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bima seperti dalam menangani komoditas bawang merah yang merupakan salah satu aset Kabupaten Bima.

Kabupaten Bima - sekarang dalam posisi sangat rapuh. Kabupaten yang berjarak 420 kilometer dari ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat, Mataram, menjadi hinterland atau wilayah belakang Kota Bima. Kabupaten Bima sebagai penyuplai komoditas dari hasil keringat masyarakat yang 65 persen petani tanaman pangan ke Kota Bima.

Salah satu komoditas adalah bawang merah. Komoditas yang dominan dihasilkan oleh masyarakat bagian Bima Timur, terutama Kecamatan Sape, Lambu dan Wera ini, melonjak produksinya sebesar 36 persen per tahun selama 1998-2002, komoditas yang biasa disebut ’bawang keta monca’ ini mampu melayani pesanan dari berbagai daerah di Kawasan Indonesia Timur, seperti Banjarmasin, Makassar, Manado, Bali, NTT, Papua, juga Jawa Timur. Pemasaran bawang yang ditanam bergantian dengan padi ini tak terlalu berjaya di kawasan barat Indonesia karena adanya daerah produsen lain, misalnya Brebes.

Rusli Zainal Sang Visioner - dapat dijadikan sebagai contoh dan model kepemimpinan yang dapat diikuti dan diterapkan oleh para bupati, terutama dalam menjaring para investor untuk menanamkan investasinya di Riau yang tentu saja dengan cara menguntungkan kedua belah pihak (win-win solution).

Produksi bawang merah yang melonjak hampir 40 persen pada tahun 1998-2002, semakin lama dirasakan seperti nostalgia saja. Kejayaan itu merosot menjadi 20 persen atau menurun hampir setengahnya pada tahun 2003-2009. Hal ini sangat memprihatinkan dan sangat perlu dilakukan revitalisasi terhadap komoditas andalan ini, seperti regulasi, pengembangan stabilisasi harga, optimalisasi pemanfaatan lahan, dan lain-lainnya.

Bawang Merah Kabupaten Bima- dengan kandungan minyak atsiri yang tinggi ini dibudidayakan paling banyak di bagian timur, seperti Kecamatan Sape, Lambu, Wera, Ambalawi yang saat ini masyarakatnya sedang giat mensosialisasikan terbentuknya Kabupaten Bima Timur. Di Bima bagian selatan yaitu Kecamatan Monta, Kecamatan Belo, Kecamatan Woha, dan Kecamatan Bolo. pada tahun 2002 sebesar 66.000 ton dari panen 6.500 hektar, dapat ditingkatkan, mengingat pembudidayaan baru memakai 49 persen dari luas potensial.
Masalah yang sekarang dihadapi petani bawang adalah rendahnya harga saat panen raya. Akibatnya, petani merasa dirugikan. Sebenarnya, fluktuasi harga pada saat panen bisa dipecahkan, salah satunya adalah membina industri rumah tangga bawang goreng dengan pasar bagian timur Indonesia seperti yang diterapkan dalam pembangunan Riau oleh Gubernur Riau yang langsung turun ke masyarakat untuk mensosialisasikan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang dilakukan oleh Rusli Zainal Sang Visioner

3 komentar:

  1. Assalamu Alaikum... Salam Blogger, Papi yang yang satu ini klo membahas BIMA... ga' tanggung2...

    BTW, NgeNEt di mana nih... PI..

    BalasHapus
  2. Yuph... all about my lovely town Bima. Biar title kliatan bhs yg lain,,, finaly tetap Bima coy... ckkk... ckk...
    salam blogger !

    BalasHapus